Hari ini PBB beberkan investigasi senjata kimia Suriah
Senin, 16 September 2013 - 10:15 WIB
Hari ini PBB beberkan investigasi senjata kimia Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, telah menerima hasil investigasi dari tim PBB yang menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah beberapa waktu lalu. Ki-moon, pada hari ini (16/9/2013) dijadwalkan untuk mengumumkan hasil investigasi dugaan penggunaan senjata kimia tersebut.
Suriah dicurigai menyimpan senjata kimia pada tahun 2012 . Intelijen AS memperkirakan negara itu memiliki sekitar 1.000 ton persenjataan, yang sebagian besar berupa gas sarin dan VX. Kedua jenis senjata kimia itu menyebabkan kejang, kelumpuhan, gagal napas, dan kematian.
Selain itu, Suriah juga dicurigai menyimpan senjata kimia jenis gas mustard, yang menyebabkan korbannya meninggal dalam kondisi yang mengerikan, seperti korban Perang Dunia I.
Pemerintah Suriah telah membantah menggunakan senjata kimia, dan menuduh balik pasukan pemberontaklah yang menggunakan senjata kimia beracun terhadap pasukan Presiden Bashar al-Assad.
Namun, dalam laporan yang dikeluarkan minggu lalu, Human Rights Watch (HRW) mengatakan, pasukan al-Assad, ”hampir pasti bertanggung jawab" atas serangan senjata kimia pada 21 Agustus 2013 di dekat Damaskus. HRW mengeluarkan laporannya itu dengan mengutip foto dan video dari adegan serangan yang menunjukkan, bahwa senjata tidak berada di tangan pemberontak.
Ban Ki-moon sendiri belum memberikan pernyataan resmi soal kepastian jadwal pengungkapan hasil investigasi dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah, termasuk lokasi dan waktu pengumuman investigasi pada hari ini. Namun, sebelumnya ia menyatakan hasil investigasi menujukkan kebenaran adanya penggunaan senjata kimia di Suriah, tanpa menyebut pelaku atau pengguna senjata mematikan itu.
Sementara itu, Menteri Rekonsiliasi Nasional Suriah, Ali Haidar, menyampaikan terima kasih kepada Rusia, yang membuat proposal penyerahan senjata kimia Suriah untuk mencegah agar negaraya tidak diserang Amerika Serikat.
”Di satu sisi, mereka (Rusia) akan membantu Suriah keluar dari krisis, dan di sisi lain, mereka mencegah perang terhadap Suriah,” kata Haidar, seperti dikutip RIA Novosti.
Suriah dicurigai menyimpan senjata kimia pada tahun 2012 . Intelijen AS memperkirakan negara itu memiliki sekitar 1.000 ton persenjataan, yang sebagian besar berupa gas sarin dan VX. Kedua jenis senjata kimia itu menyebabkan kejang, kelumpuhan, gagal napas, dan kematian.
Selain itu, Suriah juga dicurigai menyimpan senjata kimia jenis gas mustard, yang menyebabkan korbannya meninggal dalam kondisi yang mengerikan, seperti korban Perang Dunia I.
Pemerintah Suriah telah membantah menggunakan senjata kimia, dan menuduh balik pasukan pemberontaklah yang menggunakan senjata kimia beracun terhadap pasukan Presiden Bashar al-Assad.
Namun, dalam laporan yang dikeluarkan minggu lalu, Human Rights Watch (HRW) mengatakan, pasukan al-Assad, ”hampir pasti bertanggung jawab" atas serangan senjata kimia pada 21 Agustus 2013 di dekat Damaskus. HRW mengeluarkan laporannya itu dengan mengutip foto dan video dari adegan serangan yang menunjukkan, bahwa senjata tidak berada di tangan pemberontak.
Ban Ki-moon sendiri belum memberikan pernyataan resmi soal kepastian jadwal pengungkapan hasil investigasi dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah, termasuk lokasi dan waktu pengumuman investigasi pada hari ini. Namun, sebelumnya ia menyatakan hasil investigasi menujukkan kebenaran adanya penggunaan senjata kimia di Suriah, tanpa menyebut pelaku atau pengguna senjata mematikan itu.
Sementara itu, Menteri Rekonsiliasi Nasional Suriah, Ali Haidar, menyampaikan terima kasih kepada Rusia, yang membuat proposal penyerahan senjata kimia Suriah untuk mencegah agar negaraya tidak diserang Amerika Serikat.
”Di satu sisi, mereka (Rusia) akan membantu Suriah keluar dari krisis, dan di sisi lain, mereka mencegah perang terhadap Suriah,” kata Haidar, seperti dikutip RIA Novosti.
(esn)