Langgar gencatan senjata, tentara Filipina & MNLF bertempur
Sabtu, 14 September 2013 - 16:19 WIB
Langgar gencatan senjata, tentara Filipina & MNLF bertempur
A
A
A
Sindonews.com – Pertempuran kembali pecah antara tentara Filipina dan pemberontak Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) pada Sabtu (14/9/2013), di Filipina selatan. Pertempuran itu, melanggar gencatan senjata yang sudah disepakati sebelumnya.
Pihak militer Filipina mengatakan, 53 orang telah tewas dalam pertempuran, yang sudah memasuki hari keenam di kota Zamboanga, atau yang dikenal sebagai kota bunga. Puluhan orang terluka, dan lebih dari 60 ribu orang mengungsi.
Ratusan rumah dan rumah sakit dilaporkan rusak, setelah pemberontak MNLF menembaki aparat militer Filipina.
Sebelumnya, Wakil Presiden Filipina, Jejomar Binay, kepada Reuters, mengaku telah berbicara melalui telepon kepada pemimpin MNLF, Nur Misuari. Dalam pembicaraan melalui telepon itu, mereka setuju untuk gencatan senjata, dan melakukan perundingan untuk menyelesaikan konflik. Binay mengumumkan rencananya untuk mengunjungi Zamboanga.
Pertempuran sengit pecah, setelah tengah malam di sebuah desa pesisir, setelah tentara Filipina merebut kembali wilayah yang sebelumnya diduduki gerilyawan MNLF. Empat gerilyawan MNLF dilaporkan tewas dalam pertempuran tersebut.
Sebelum itu, pertempuran secara sporadis melanda tiga wilayah di Zamboanga, dari pagi hingga sore hari. Pihak militer mengakui, salah satu tentaranya tewas dalam pertempuran.
Abigail Valte , juru bicara presiden, kepada wartawan di Manila, mengatakan, bahwa gencatan senjata itu tidak pernah dilaksanakan. Dia menuduh para pemberontak meluncurkan serangan sepanjang malam.
Dalam sebuah wawancara radio , Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin, mengatakan wakil presiden telah mengatakan kepadanya bahwa kesepakatan gencatan senjata telah tercapai. Tapi, tidak pernah dipatuhi. ”Kami hanya akan berhenti menembaki mereka, ketika mereka berhenti menembaki tentara kami dan warga sipil,” katanya.
Pihak militer Filipina mengatakan, 53 orang telah tewas dalam pertempuran, yang sudah memasuki hari keenam di kota Zamboanga, atau yang dikenal sebagai kota bunga. Puluhan orang terluka, dan lebih dari 60 ribu orang mengungsi.
Ratusan rumah dan rumah sakit dilaporkan rusak, setelah pemberontak MNLF menembaki aparat militer Filipina.
Sebelumnya, Wakil Presiden Filipina, Jejomar Binay, kepada Reuters, mengaku telah berbicara melalui telepon kepada pemimpin MNLF, Nur Misuari. Dalam pembicaraan melalui telepon itu, mereka setuju untuk gencatan senjata, dan melakukan perundingan untuk menyelesaikan konflik. Binay mengumumkan rencananya untuk mengunjungi Zamboanga.
Pertempuran sengit pecah, setelah tengah malam di sebuah desa pesisir, setelah tentara Filipina merebut kembali wilayah yang sebelumnya diduduki gerilyawan MNLF. Empat gerilyawan MNLF dilaporkan tewas dalam pertempuran tersebut.
Sebelum itu, pertempuran secara sporadis melanda tiga wilayah di Zamboanga, dari pagi hingga sore hari. Pihak militer mengakui, salah satu tentaranya tewas dalam pertempuran.
Abigail Valte , juru bicara presiden, kepada wartawan di Manila, mengatakan, bahwa gencatan senjata itu tidak pernah dilaksanakan. Dia menuduh para pemberontak meluncurkan serangan sepanjang malam.
Dalam sebuah wawancara radio , Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin, mengatakan wakil presiden telah mengatakan kepadanya bahwa kesepakatan gencatan senjata telah tercapai. Tapi, tidak pernah dipatuhi. ”Kami hanya akan berhenti menembaki mereka, ketika mereka berhenti menembaki tentara kami dan warga sipil,” katanya.
(esn)