Militer Filipina ultimatum MNLF, warga 6 desa dievakuasi paksa
Jum'at, 13 September 2013 - 13:10 WIB
Militer Filipina ultimatum MNLF, warga 6 desa dievakuasi paksa
A
A
A
Sindonews.com – Dewan Kota Zamboanga, Filipina, pada Jumat (13/9/2013), memerintahkan pasukan untuk mengevakuasi paksa warga, di enam barangay (pedesaan) di Kota Zambonga. Perintah evakuasi itu, muncul setelah ultimatum diberikan kepada pemberontak Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF).
Isi ultimatum itu, berupa tantangan dari militer agar mereka menghadapi kekuatan pasukan pemerintah, atau mundur dari pertempuran.
Sheila Covarrubias, juru bicara Komite Manajemen Krisis (CMC) yang mencari resolusi damai untuk konflik di kota Filipina selatan, mengatakan, evakuasi itu untuk memastikan, bahwa tidak ada warga sipil tak bersalah terjebak dalam baku tembak.
”Dewan Kota dengan suara bulat menyetujui pada Kamis malam, terkait evakuasi paksa. Semua warga dari daerah ini disarankan mengikuti proses evakuasi. Para pejabat barangay telah diarahkan untuk mengevakuasi warga,” ujar Covarrubias, seperti dikutip Xinhua.
”Warga telah diminta mengikuti proses evakuasi, agar tidak terjebak dalam baku tembak. Tapi tadi malam, sudah ada suatu peraturan yang mewajibkan evakuasi ini,” lanjut dia.
Walikota Maria Isabelle Climaco - Salazar, dilaporkan sedang dalam proses negosiasi dengan pendiri MNLF, Nur Misuari dan komandan MNLF Habier Malik. Misuari memimpin kelompok itu di wilayah Sulu, sementara Malik memimpin anak buahnya di kota Zamboanga.
Di Manila, juru bicara kepresidenan, Edwin Lacierda, menegaskan dalam sebuah jumpa pers, kemarin, bahwa pemerintah tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan guna mengakhiri krisis di Zamboanga.
”Sementara pemerintah lelah dengan semua jalan untuk membuat resolusi damai, negara tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan guna melindungi rakyat kita,” kata Lacierda.
Isi ultimatum itu, berupa tantangan dari militer agar mereka menghadapi kekuatan pasukan pemerintah, atau mundur dari pertempuran.
Sheila Covarrubias, juru bicara Komite Manajemen Krisis (CMC) yang mencari resolusi damai untuk konflik di kota Filipina selatan, mengatakan, evakuasi itu untuk memastikan, bahwa tidak ada warga sipil tak bersalah terjebak dalam baku tembak.
”Dewan Kota dengan suara bulat menyetujui pada Kamis malam, terkait evakuasi paksa. Semua warga dari daerah ini disarankan mengikuti proses evakuasi. Para pejabat barangay telah diarahkan untuk mengevakuasi warga,” ujar Covarrubias, seperti dikutip Xinhua.
”Warga telah diminta mengikuti proses evakuasi, agar tidak terjebak dalam baku tembak. Tapi tadi malam, sudah ada suatu peraturan yang mewajibkan evakuasi ini,” lanjut dia.
Walikota Maria Isabelle Climaco - Salazar, dilaporkan sedang dalam proses negosiasi dengan pendiri MNLF, Nur Misuari dan komandan MNLF Habier Malik. Misuari memimpin kelompok itu di wilayah Sulu, sementara Malik memimpin anak buahnya di kota Zamboanga.
Di Manila, juru bicara kepresidenan, Edwin Lacierda, menegaskan dalam sebuah jumpa pers, kemarin, bahwa pemerintah tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan guna mengakhiri krisis di Zamboanga.
”Sementara pemerintah lelah dengan semua jalan untuk membuat resolusi damai, negara tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan guna melindungi rakyat kita,” kata Lacierda.
(esn)