Obama tak serang Suriah, jika senjata kimia diserahkan
Selasa, 10 September 2013 - 09:33 WIB
Obama tak serang Suriah, jika senjata kimia diserahkan
A
A
A
Sindonews.com - Presiden AS, Barack Obama, mengatakan, ia akan mempertimbangkan untuk menahan rencana serangan militer terhadap Suriah. Syaratnya, jika negara pimpinan Presiden Bashar al-Assad itu bersedia menyerahkan senjata kimia di bawah pengawasan internasional.
Obama berpendapat, rencana serangan militer AS hanya untuk menghukum rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas penggunaan senjata kimia. Menurutnya, serangan militer AS jika disetujui hanya akan berlangsung singkat, dengan tujuan mencegah agar senjata kimia itu tidak digunakan lagi.
”Saya ingin memastikan bahwa aturan terhadap penggunaan senjata kimia dipertahankan,” kata Obama kepada ABC News, kemarin (9/9/2013) . ”Itu dalam kepentingan keamanan nasional kita. Jika kita bisa melakukan itu tanpa serangan militer, itu yang jadi preferensi saya.”
Ditanya, apakah AS akan menghentikan rencana menyerang Suriah, jika Assad menyerahkan senjata kimia dengan pengawasan, Obama menjawab; ”Tentu saja, jika itu sebenarnya yang terjadi.”
Pernyataan Obama itu muncul, setelah Rusia meminta Suriah untuk menyerahkan senjata kimia di bawah pengawasan internasional, untuk menghindari serangan militer AS.
Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengatakan, Assad bisa menyerahkan seluruh stok senjata kimia-nya dalam waktu sepekan.
Pernyataan Obama datang setelah Rusia meminta Suriah untuk menempatkan persediaan senjata kimia di bawah kontrol internasional dan kemudian telah mereka hancur, dalam upaya untuk menghindari serangan militer AS.
Sementara itu, Presiden Assad memperingatkan, bahwa intervensi AS akan memicu “ledakan besar” di Timur Tengah. ”Kau (AS) akan membayar harga, jika Anda tidak bijaksana dengan berurusan terhadap teroris. Anda akan merasakan dampaknya,” ujar Assad.
”Pemerintah bukan satu-satunya pemain di wilayah ini (konflik Suriah). Anda akan melihat partai yang berbeda, faksi yang berbeda, ideologi yang berbeda. Anda memiliki segala sesuatu dalam keputusan ini sekarang.”
Assad tidak menjelaskan apakah komentarnya itu, mengacu pada ancaman serangan balasan dari kelompok-kelompok pendukungnya, Hizbullah, atau justru peringatan adanya serangan besar dari kelompok al-Qaeda. Dia sendiri membantah telah memerintahkan penggunaan senjata kimia pada serangan 21 Agustus 2013.”Tidak ada bukti,” kata Assad.
Obama berpendapat, rencana serangan militer AS hanya untuk menghukum rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas penggunaan senjata kimia. Menurutnya, serangan militer AS jika disetujui hanya akan berlangsung singkat, dengan tujuan mencegah agar senjata kimia itu tidak digunakan lagi.
”Saya ingin memastikan bahwa aturan terhadap penggunaan senjata kimia dipertahankan,” kata Obama kepada ABC News, kemarin (9/9/2013) . ”Itu dalam kepentingan keamanan nasional kita. Jika kita bisa melakukan itu tanpa serangan militer, itu yang jadi preferensi saya.”
Ditanya, apakah AS akan menghentikan rencana menyerang Suriah, jika Assad menyerahkan senjata kimia dengan pengawasan, Obama menjawab; ”Tentu saja, jika itu sebenarnya yang terjadi.”
Pernyataan Obama itu muncul, setelah Rusia meminta Suriah untuk menyerahkan senjata kimia di bawah pengawasan internasional, untuk menghindari serangan militer AS.
Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengatakan, Assad bisa menyerahkan seluruh stok senjata kimia-nya dalam waktu sepekan.
Pernyataan Obama datang setelah Rusia meminta Suriah untuk menempatkan persediaan senjata kimia di bawah kontrol internasional dan kemudian telah mereka hancur, dalam upaya untuk menghindari serangan militer AS.
Sementara itu, Presiden Assad memperingatkan, bahwa intervensi AS akan memicu “ledakan besar” di Timur Tengah. ”Kau (AS) akan membayar harga, jika Anda tidak bijaksana dengan berurusan terhadap teroris. Anda akan merasakan dampaknya,” ujar Assad.
”Pemerintah bukan satu-satunya pemain di wilayah ini (konflik Suriah). Anda akan melihat partai yang berbeda, faksi yang berbeda, ideologi yang berbeda. Anda memiliki segala sesuatu dalam keputusan ini sekarang.”
Assad tidak menjelaskan apakah komentarnya itu, mengacu pada ancaman serangan balasan dari kelompok-kelompok pendukungnya, Hizbullah, atau justru peringatan adanya serangan besar dari kelompok al-Qaeda. Dia sendiri membantah telah memerintahkan penggunaan senjata kimia pada serangan 21 Agustus 2013.”Tidak ada bukti,” kata Assad.
(esn)