Enam tewas, 24 terluka dalam bentrokan di Filipina selatan
Selasa, 10 September 2013 - 01:32 WIB
Enam tewas, 24 terluka dalam bentrokan di Filipina selatan
A
A
A
Sindonews.com – Enam orang tewas dan 24 lainnya cedera dalam bentrokan antara pasukan Pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) di kota Zamboanga, Filipina selatan, Senin (9/9/2013) pagi.
Walikota Zamboanga, Beng Climaco, mengatakan dalam sebuah pernyataan, bentrokan terjadi sejak pukul 4.30 pagi. Bentrokan ini mengakibatkan enam tewas, yang terdiri dari seorang polisi, seorang anggota Angkata Laut, dan empat warga sipil.
"Kami berada dalam koordinasi yang erat dengan polisi dan otoritas militer dan segala sesuatu yang dilakukan untuk mengatasi krisis pada waktu paling cepat mungkin dengan kerusakan minimal pada kehidupan dan properti," kata Climaco, seperti dikutip dari Xinhua.
Dalam insiden ini, anggota MNLF juga menyandera 20 warga sipil. Pihak militer mengatakan, bahwa para sandera digunakan sebagai perisai manusia untuk mencegah serangan tentara. Hingga kini, suara tembakan masih terdengar di sekitar Zamboanga.
Bentrokan ini terjadi, setelah pemimpin MNLF, Nur Misuari, mendeklarasikan kemerdekaan Mindanao, meski kelompok ini telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Pemerintah Filipina pada 1996 silam.
Misuari menentang perundingan perdamaian yang sedang berlangsung antara Pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Putaran berikut perundingan damai antara MILF dengan Pemerintah Filipina akan dilangsungkan pada akhir bulan ini di Kuala Lumpur.
Walikota Zamboanga, Beng Climaco, mengatakan dalam sebuah pernyataan, bentrokan terjadi sejak pukul 4.30 pagi. Bentrokan ini mengakibatkan enam tewas, yang terdiri dari seorang polisi, seorang anggota Angkata Laut, dan empat warga sipil.
"Kami berada dalam koordinasi yang erat dengan polisi dan otoritas militer dan segala sesuatu yang dilakukan untuk mengatasi krisis pada waktu paling cepat mungkin dengan kerusakan minimal pada kehidupan dan properti," kata Climaco, seperti dikutip dari Xinhua.
Dalam insiden ini, anggota MNLF juga menyandera 20 warga sipil. Pihak militer mengatakan, bahwa para sandera digunakan sebagai perisai manusia untuk mencegah serangan tentara. Hingga kini, suara tembakan masih terdengar di sekitar Zamboanga.
Bentrokan ini terjadi, setelah pemimpin MNLF, Nur Misuari, mendeklarasikan kemerdekaan Mindanao, meski kelompok ini telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Pemerintah Filipina pada 1996 silam.
Misuari menentang perundingan perdamaian yang sedang berlangsung antara Pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Putaran berikut perundingan damai antara MILF dengan Pemerintah Filipina akan dilangsungkan pada akhir bulan ini di Kuala Lumpur.
(esn)