Erdogan kecam sikap Putin soal serangan militer ke Suriah
Kamis, 05 September 2013 - 14:09 WIB
Erdogan kecam sikap Putin soal serangan militer ke Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengkritik sikap Presiden Rusia, Vladimir Putin yang mengesampingkan aksi militer terhadap rezim Suriah, jika mereka terbukti bertanggung jawab atas serangan kimia di pinggiran Ibu Kota Damaskus. Menurutnya, tindakan itu memperlambat penanganan terhadap krisis kemanusiaan di Suriah, Rabu (4/9/2013).
"Saya kesulitan memahami pernyataan Putin, bahwa Rusia akan bertindak jika Barat mengungkapkan bukti otentik bahwa rezim Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia yang telah menewaskan lebih dari 1.300 jiwa," ungkap Erdogan saat dimintai pendapat tentang perkembangan terbaru di Suriah, seperti dilansir Today Zaman.
"Anda akan membunuh orang dengan pesawat, itu tidak Anda sebut sebagai kejahatan. Tapi, ketika Anda mengunakan senjata kimia, Anda tidak menyebut itu sebagai sebuah kejahatan," ungkap Erdogan.
"Pertama-tama kita harus memutuskan apakah pembunuhan itu adalah sebuah kejahatan atau tidak. Anda tidak akan menyebut pembunuhan terhadap 100 ribu orang sebagai sebuah kejahatan, tapi saat 1.300 atau 130 orang tewas, maka Anda akan berkata saya akan mendukung PBB menyerang jika penggunaan senjata kimia dibuktikan. Ini aneh," terang Erdogan
Erdogan menekankan, krisis Suriah semakin menyita perhatian masyarakat internasional, setelah penggunaan senjata kimia yang menewaskan ribuan orang.
Erdogan kemudian menjelaskan mengapa tidak diragukan lagi bahwa rezim Suriah telah menggunakan senjata kimia.
"Seluruh dunia melihat berapa banyak tubuh anak kecil yang mati. Jika Anda melihat tayangan itu dengan sangat berhati-hati, maka Anda akan melihat bahwa jasad-jasad itu tidak mengeluarkan darah ataupun terkena tembakan peluru. Anda harus menyadari, bahwa mereka itu tewas karena serangan bom kimia. Rezim Suriah telah menyetujui penggunaan senjata kimia, tapi mereka menyalahkan oposisi atas tindakan mereka," papar Erdogan.
Mengomentari Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) tang meminta keputusan kongres untuk melancarkan aksi militer ke Suriah, Erdogan mengatakan, "ini merupakan kebijakan dalam negeri AS dan persetujan itu akan meningkatkan rasa percaya diri Obama akan keputusannya".
"Saya kesulitan memahami pernyataan Putin, bahwa Rusia akan bertindak jika Barat mengungkapkan bukti otentik bahwa rezim Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia yang telah menewaskan lebih dari 1.300 jiwa," ungkap Erdogan saat dimintai pendapat tentang perkembangan terbaru di Suriah, seperti dilansir Today Zaman.
"Anda akan membunuh orang dengan pesawat, itu tidak Anda sebut sebagai kejahatan. Tapi, ketika Anda mengunakan senjata kimia, Anda tidak menyebut itu sebagai sebuah kejahatan," ungkap Erdogan.
"Pertama-tama kita harus memutuskan apakah pembunuhan itu adalah sebuah kejahatan atau tidak. Anda tidak akan menyebut pembunuhan terhadap 100 ribu orang sebagai sebuah kejahatan, tapi saat 1.300 atau 130 orang tewas, maka Anda akan berkata saya akan mendukung PBB menyerang jika penggunaan senjata kimia dibuktikan. Ini aneh," terang Erdogan
Erdogan menekankan, krisis Suriah semakin menyita perhatian masyarakat internasional, setelah penggunaan senjata kimia yang menewaskan ribuan orang.
Erdogan kemudian menjelaskan mengapa tidak diragukan lagi bahwa rezim Suriah telah menggunakan senjata kimia.
"Seluruh dunia melihat berapa banyak tubuh anak kecil yang mati. Jika Anda melihat tayangan itu dengan sangat berhati-hati, maka Anda akan melihat bahwa jasad-jasad itu tidak mengeluarkan darah ataupun terkena tembakan peluru. Anda harus menyadari, bahwa mereka itu tewas karena serangan bom kimia. Rezim Suriah telah menyetujui penggunaan senjata kimia, tapi mereka menyalahkan oposisi atas tindakan mereka," papar Erdogan.
Mengomentari Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) tang meminta keputusan kongres untuk melancarkan aksi militer ke Suriah, Erdogan mengatakan, "ini merupakan kebijakan dalam negeri AS dan persetujan itu akan meningkatkan rasa percaya diri Obama akan keputusannya".
(esn)