PBB diminta selidiki dugaan serangan kimia oleh kaum pemberontak
Kamis, 29 Agustus 2013 - 01:51 WIB
PBB diminta selidiki dugaan serangan kimia oleh kaum pemberontak
A
A
A
Sindonews.com – Duta Besar Suriah untuk PBB, Bashar Ja'afari, pada Rabu (28/8/2013), meminta tim penyidik PBB yang saat ini berada di Damaskus untuk menyelidiki dugaan tiga serangan senjata kimia yang disebut rezim Suriah dilakukan oleh kaum pemberontak.
Ja'afari mengatakan, ia telah menulis surat kepada Sekjen PBB, Ban Ki-moon dan meminta agar tim penyidik PBB juga menginvestigasi tiga insiden keji yang terjadi di pedesaan Damaskus pada 22, 24, dan 25 Agustus.
“Dalam serangan senjata kimia yang dilancarkan pemberontak itu, tentara Pemerintah Suriah menghirup gas beracun,” kata Ja’afari, seperti dikutip dari Reuters.
Saat ini, tim penyidik PBB yang dipimpin oleh ilmuwan Swedia, Ake Sellstrom, tengah berada di Damaskus. Semula, tim ini juga akan menyelidiki tiga insiden yang dilaporkan Ja’afari. Namun, prioritas penyelidikan adalah dugaan serangan yang terjadi di basis pemberontak di pinggiran Damaskus. Di daerah ini, pada pekan lalu dilaporkan terjadi serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan warga sipil.
Para penyelidik PBB akan meninggalkan Suriah pada akhir pekan ini. Menurut Juru Bicara PBB, Farhan Haq, PBB tidak mengajukan perpanjangan waktu kunjungan pada Pemerintah Suriah.
"Tim ini memiliki kemampuan untuk menyelidiki insiden lain yang diperlukan," kata Haq. Ia menambahkan, bahwa tiga kejadian awal yang dilaporkan rezim Suriah, akan diselidiki "pada waktunya."
Selama dua tahun berlangsungnya perang sipil di Suriah, PBB telah menerima sedikitnya 14 laporan kemungkinan serangan senjata kimia. Setelah berbulan-bulan perdebatan diplomatik, tim ahli PBB akhirnya menginjakkan kaki di Suriah pada 18 Agustus lalu.
Ja'afari mengatakan, ia telah menulis surat kepada Sekjen PBB, Ban Ki-moon dan meminta agar tim penyidik PBB juga menginvestigasi tiga insiden keji yang terjadi di pedesaan Damaskus pada 22, 24, dan 25 Agustus.
“Dalam serangan senjata kimia yang dilancarkan pemberontak itu, tentara Pemerintah Suriah menghirup gas beracun,” kata Ja’afari, seperti dikutip dari Reuters.
Saat ini, tim penyidik PBB yang dipimpin oleh ilmuwan Swedia, Ake Sellstrom, tengah berada di Damaskus. Semula, tim ini juga akan menyelidiki tiga insiden yang dilaporkan Ja’afari. Namun, prioritas penyelidikan adalah dugaan serangan yang terjadi di basis pemberontak di pinggiran Damaskus. Di daerah ini, pada pekan lalu dilaporkan terjadi serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan warga sipil.
Para penyelidik PBB akan meninggalkan Suriah pada akhir pekan ini. Menurut Juru Bicara PBB, Farhan Haq, PBB tidak mengajukan perpanjangan waktu kunjungan pada Pemerintah Suriah.
"Tim ini memiliki kemampuan untuk menyelidiki insiden lain yang diperlukan," kata Haq. Ia menambahkan, bahwa tiga kejadian awal yang dilaporkan rezim Suriah, akan diselidiki "pada waktunya."
Selama dua tahun berlangsungnya perang sipil di Suriah, PBB telah menerima sedikitnya 14 laporan kemungkinan serangan senjata kimia. Setelah berbulan-bulan perdebatan diplomatik, tim ahli PBB akhirnya menginjakkan kaki di Suriah pada 18 Agustus lalu.
(esn)