Oposisi Suriah: Korban tewas akibat bom kimia 1.300 orang
Kamis, 22 Agustus 2013 - 10:22 WIB
Oposisi Suriah: Korban tewas akibat bom kimia 1.300 orang
A
A
A
Sindonews.com - Kelompok oposisi utama di Suriah kembali melansir klaim terbaru tentang jumlah korban tewas yang diduga akibat serangan bom kimia. Menurut mereka, jumlah korban tewas hingga Kamis (22/8/2013), mencapai 1.300 orang.
”Pemerintah membantai lebih dari 1.300 orang dalam serangan senjata kimia di dekat Damaskus,” kata kelompok oposisi itu, dalam pernyataan yang dikutip Daily Mail. Kendati demikian, klaim itu belum diklarifikasi pihak pemerintah Suriah.
Jaringan aktivis Komite Koordinasi Lokal (LCC), melaporkan serangan brutal gas beracun menyasar pada ratusan orang. ”Penggunaan gas beracun oleh rezim di bagian Ghouta barat,” kata Komite itu dalam sebuah pernyataan.
Dalam video yang diposting di YouTube, kelompok ativis lain bernama Komisi Umum Revolusi Suriah, menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai pembunuhan massal. ”Yang dilakukan oleh pasukan rezim dengan gas beracun. Puluhan martir (korban tewas) dan lainnya terluka,” imbuh kelompok itu, dalam pesan video.
”Serangan tersebut menyebabkan sesak napas pada anak-anak. Rumah sakit kebanjiran ratusan korban, sedangkan tim medis kekurangan obat, khususnya Atropin,” lanjut LCC dalam sebuah pernyataan berbahasa Inggris.
Pemerintah Presiden Bashar al-Assad berkali-kali menepis tudingan penggunaan senjata kimia seperti yang dituduhkan para aktivis dan oposisi. Pemerintah menyebut, tuduhan itu sebagai propaganda kotor untuk menyesatkan tim penyelidik PBB yang akan mejalankan misinya di Suriah.
Menteri Informasi Suriah, Omran al-Zoubi, menuding para pemberontak terpaksa menuduh tentara Suriah menggunakan senjata kimia terhadap pemberontak karena "depresi" akibat kemajuan pesat pergerakan pasukan pemerintah.
"Ada sebuah operasi militer yang sedang berlangsung, yang progresif selama berhari-hari dan pasukan tentara Suriah yang maju, berhasil mendorong para pemberontak untuk menggunakan isu ini (senjata kimia). Ini bertepatan dengan hari pertama tim inspeksi PBB bekerja,” kata al-Zoubi.
”Pemerintah membantai lebih dari 1.300 orang dalam serangan senjata kimia di dekat Damaskus,” kata kelompok oposisi itu, dalam pernyataan yang dikutip Daily Mail. Kendati demikian, klaim itu belum diklarifikasi pihak pemerintah Suriah.
Jaringan aktivis Komite Koordinasi Lokal (LCC), melaporkan serangan brutal gas beracun menyasar pada ratusan orang. ”Penggunaan gas beracun oleh rezim di bagian Ghouta barat,” kata Komite itu dalam sebuah pernyataan.
Dalam video yang diposting di YouTube, kelompok ativis lain bernama Komisi Umum Revolusi Suriah, menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai pembunuhan massal. ”Yang dilakukan oleh pasukan rezim dengan gas beracun. Puluhan martir (korban tewas) dan lainnya terluka,” imbuh kelompok itu, dalam pesan video.
”Serangan tersebut menyebabkan sesak napas pada anak-anak. Rumah sakit kebanjiran ratusan korban, sedangkan tim medis kekurangan obat, khususnya Atropin,” lanjut LCC dalam sebuah pernyataan berbahasa Inggris.
Pemerintah Presiden Bashar al-Assad berkali-kali menepis tudingan penggunaan senjata kimia seperti yang dituduhkan para aktivis dan oposisi. Pemerintah menyebut, tuduhan itu sebagai propaganda kotor untuk menyesatkan tim penyelidik PBB yang akan mejalankan misinya di Suriah.
Menteri Informasi Suriah, Omran al-Zoubi, menuding para pemberontak terpaksa menuduh tentara Suriah menggunakan senjata kimia terhadap pemberontak karena "depresi" akibat kemajuan pesat pergerakan pasukan pemerintah.
"Ada sebuah operasi militer yang sedang berlangsung, yang progresif selama berhari-hari dan pasukan tentara Suriah yang maju, berhasil mendorong para pemberontak untuk menggunakan isu ini (senjata kimia). Ini bertepatan dengan hari pertama tim inspeksi PBB bekerja,” kata al-Zoubi.
(esn)