24 polisi ditembak mati, Mesir terapkan jam malam
Senin, 19 Agustus 2013 - 14:39 WIB
24 polisi ditembak mati, Mesir terapkan jam malam
A
A
A
Sindonews.com - Setidaknya 24 polisi Mesir tewas dalam penyergapan yang dilakukan empat pria bersenjata di Semenanjung Sinai, Senin (19/8/2013). Sejumlah sumber medis dan pejabat setempat, mengatakan para pria bersenjata itu menembaki para polisi yang dipaksa keluar dari dua bus di dekat kota Rafah, perbatasan Gaza.
Tiga polisi juga dilaporkan terluka dalam serangan yang disertai ledakan itu. Sumber keamanan Mesir seperti dikutip BBC, mengatakan, empat pria bersenjata memaksa dua bus polisi berhenti. Para penumpangnya dipaksa keluar dan ditembaki.
Pemimpin interim Mesir telah menetapkan status darurat di tengah kerusuhan nasional, sejak lengsernya Presiden Hosni Mubarak. Jam malam juga diberlakukan di beberapa provinsi, termasuk di Ibu Kota Kairo.
Sebelumnya, pada Minggu sore, 36 anggota Ikhwanul Muslimin tewas dalam kerusuhan yang terjadi di penjara Kairo. Pemerintah dan pejabat militer, mengatakan mereka tewas setelah menghirup gas air mata saat kerusuhan terjadi.
Menteri Pertahanan Mesir, Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, dalam pidatonya, memperingatkan bahwa militer tidak akan membiarkan kekerasan lebih lanjut setelah kerusuhan terbaru.
”Kami tidak akan berdiri dan berdiam diri menonton kehancuran negara dan rakyat, atau menyaksikan mereka membakar bangsa dan meneror warga," katanya seperti dikutip pada halaman Facebook militer Mesir.
Tiga polisi juga dilaporkan terluka dalam serangan yang disertai ledakan itu. Sumber keamanan Mesir seperti dikutip BBC, mengatakan, empat pria bersenjata memaksa dua bus polisi berhenti. Para penumpangnya dipaksa keluar dan ditembaki.
Pemimpin interim Mesir telah menetapkan status darurat di tengah kerusuhan nasional, sejak lengsernya Presiden Hosni Mubarak. Jam malam juga diberlakukan di beberapa provinsi, termasuk di Ibu Kota Kairo.
Sebelumnya, pada Minggu sore, 36 anggota Ikhwanul Muslimin tewas dalam kerusuhan yang terjadi di penjara Kairo. Pemerintah dan pejabat militer, mengatakan mereka tewas setelah menghirup gas air mata saat kerusuhan terjadi.
Menteri Pertahanan Mesir, Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, dalam pidatonya, memperingatkan bahwa militer tidak akan membiarkan kekerasan lebih lanjut setelah kerusuhan terbaru.
”Kami tidak akan berdiri dan berdiam diri menonton kehancuran negara dan rakyat, atau menyaksikan mereka membakar bangsa dan meneror warga," katanya seperti dikutip pada halaman Facebook militer Mesir.
(esn)