Ratusan pendukung Morsi tewas, Iran kecam aparat Mesir
Rabu, 14 Agustus 2013 - 21:43 WIB
Ratusan pendukung Morsi tewas, Iran kecam aparat Mesir
A
A
A
Sindonews.com - Iran mengutuk penindasan yang dilakukan oleh pasukan keamanan Mesir dalam operasi pembersihan pendukung presiden terguling, Mohammed Morsi, dari dua kamp di Kairo, Rabu (14/8/2013) fajar. Iran menyebut aksi itu sebagai tindakan pembantaian.
"Iran sangat merasakan kepahitan yang dialami Mesir dan kami tidak setuju dengan tindakan kekerasan. Kami mengutuk aksi pembantaian terhadap warga dan memperingatkan konsekuensi serius atas langkah tersebut," ungkap Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Fars.
"Pendekatan keras yang dilakukan oleh aparat keamanan memperkuat kemungkinan pecahnya perang saudara yang besar di Mesir," lanjut isi pernyataan itu.
Dengan ini pemerintah Iran menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mendorong segera merealisasikan dialog nasional dan proses demokrasi untuk mengakhiri krisis politik.
Seperti diketahui, pasca pengulingan Morsi pada 3 Juli lalu, para pendukung mereka tidak berhenti melakukan protes dan bermukim di dua kamp utama, kamp Rabaa al-Adawiya, sisi timur Kairo dan alun-alun Al-Nahda.
Bentrok mematikan dimulai saat fajar di kamp Rabaa al-Adawiya, sisi timur Kairo dan alun-alun Al-Nahda.
Saksi mata dan koresponden AFP mengatakan, polisi mengepung kamp Rabaa al-Adawiya. Mereka kemudian melepaskan tabung gas kecil yang berisi gas air mata. Akibatnya, kekacauan seketika pecah di tengah ribuan pengunjuk rasa yang telah menetap sejak 3 Juli lalu.
Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir, pasukan keamanan telah berhasil menguasai kamp alun-alun Al-Nahda. "Pasukan keamanan hanya menggunakan tabung gas air mata untuk membubarkan para demonstran, sementara tembak menembak datang dari dua kubu penentang dan pendukung Morsi. Akibatnya, seorang perwira dan wajib militer tewas, sementara empat polisi mengalami luka-luka," lanjut pernyataan tersebut.
"Iran sangat merasakan kepahitan yang dialami Mesir dan kami tidak setuju dengan tindakan kekerasan. Kami mengutuk aksi pembantaian terhadap warga dan memperingatkan konsekuensi serius atas langkah tersebut," ungkap Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Fars.
"Pendekatan keras yang dilakukan oleh aparat keamanan memperkuat kemungkinan pecahnya perang saudara yang besar di Mesir," lanjut isi pernyataan itu.
Dengan ini pemerintah Iran menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mendorong segera merealisasikan dialog nasional dan proses demokrasi untuk mengakhiri krisis politik.
Seperti diketahui, pasca pengulingan Morsi pada 3 Juli lalu, para pendukung mereka tidak berhenti melakukan protes dan bermukim di dua kamp utama, kamp Rabaa al-Adawiya, sisi timur Kairo dan alun-alun Al-Nahda.
Bentrok mematikan dimulai saat fajar di kamp Rabaa al-Adawiya, sisi timur Kairo dan alun-alun Al-Nahda.
Saksi mata dan koresponden AFP mengatakan, polisi mengepung kamp Rabaa al-Adawiya. Mereka kemudian melepaskan tabung gas kecil yang berisi gas air mata. Akibatnya, kekacauan seketika pecah di tengah ribuan pengunjuk rasa yang telah menetap sejak 3 Juli lalu.
Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir, pasukan keamanan telah berhasil menguasai kamp alun-alun Al-Nahda. "Pasukan keamanan hanya menggunakan tabung gas air mata untuk membubarkan para demonstran, sementara tembak menembak datang dari dua kubu penentang dan pendukung Morsi. Akibatnya, seorang perwira dan wajib militer tewas, sementara empat polisi mengalami luka-luka," lanjut pernyataan tersebut.
(esn)