Serangan bom tewaskan seorang polisi di Thailand
Selasa, 13 Agustus 2013 - 20:49 WIB
Serangan bom tewaskan seorang polisi di Thailand
A
A
A
Sindonews.com - Seorang polisi tewas, sementara sembilan orang lainnya mengalami luka-luka setelah terkena serangan bom pinggir jalan di Distrik Sungai Padi, Provinsi Narathiwat, Selasa (13/8/2013).
Pejabat senior Provinsi Narathiwat mengatakan, ledakan bom itu merupakan ulah para gerilyawan. Aparat kepolisian itu diserang saat berada dalam perjalanan untuk menyelamatkan seroang pejabat lokal setempat yang diserang oleh sejumlah gerilyawan.
"Sersan A meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ledakan itu bersumber dari setelah sebuah bom yang disembunyikan dalam kotak logam. Bom itu meledak setelah terdengar bunyi dering telepon," ungkap seorang polisi lokal yang enggan namanya disebut kepada AFP.
"Selain sersan A, ledakan itu juga melukai sembilan orang lainnya. Di antara korban luka, terdapat tiga polisi yang kini masih dalam kondisi kritis," lanjut polisi itu.
Provinsi Narathiwat adalah salah satu dari sejumlah provinsi di wilayah Thailand selatan yang dirundung aksi kekerasan pada 2004 silam. Saat itu tercatat 5.700 orang tewas dalam sebuah pemberontakan yang pecah di wilayah selatan.
Hingga kini, Pemerintah Thailand terus mengupayakan perdamaian dengan beberapa kelompok pemberontak, termasuk Barisan Revolusi Nasional (BRN). Namun, beberapa pekan lalu pembicaraan antara pemerintah dengan BRN terancam berhenti, setelah pengamat lokal merekam 29 kematian selama bulan ramadan dalam periode gencatan senjata 10 Juli-18 Agustus.
Lewat sebuah video yang diunggah di YouTube, BRN mengaku akan menghentikan negosiasi, tapi pemerintah tetap akan melanjutkan perundingan.
"Negosiasi dengan BRN berlanjut pada 18 Agustus. Kami akan melakukan kontak dengan BRN melalui perantara Malaysia," ungkap Paradorn Pattanatabut, kepala Dewan Keamanan Nasional dan negosiator perdamaian Thailand. "Kami akan membahas mengenai angka kematian selama Ramadan untuk mengetahui siapa yang berada di balik pembunuhan itu," katanya.
Pejabat senior Provinsi Narathiwat mengatakan, ledakan bom itu merupakan ulah para gerilyawan. Aparat kepolisian itu diserang saat berada dalam perjalanan untuk menyelamatkan seroang pejabat lokal setempat yang diserang oleh sejumlah gerilyawan.
"Sersan A meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ledakan itu bersumber dari setelah sebuah bom yang disembunyikan dalam kotak logam. Bom itu meledak setelah terdengar bunyi dering telepon," ungkap seorang polisi lokal yang enggan namanya disebut kepada AFP.
"Selain sersan A, ledakan itu juga melukai sembilan orang lainnya. Di antara korban luka, terdapat tiga polisi yang kini masih dalam kondisi kritis," lanjut polisi itu.
Provinsi Narathiwat adalah salah satu dari sejumlah provinsi di wilayah Thailand selatan yang dirundung aksi kekerasan pada 2004 silam. Saat itu tercatat 5.700 orang tewas dalam sebuah pemberontakan yang pecah di wilayah selatan.
Hingga kini, Pemerintah Thailand terus mengupayakan perdamaian dengan beberapa kelompok pemberontak, termasuk Barisan Revolusi Nasional (BRN). Namun, beberapa pekan lalu pembicaraan antara pemerintah dengan BRN terancam berhenti, setelah pengamat lokal merekam 29 kematian selama bulan ramadan dalam periode gencatan senjata 10 Juli-18 Agustus.
Lewat sebuah video yang diunggah di YouTube, BRN mengaku akan menghentikan negosiasi, tapi pemerintah tetap akan melanjutkan perundingan.
"Negosiasi dengan BRN berlanjut pada 18 Agustus. Kami akan melakukan kontak dengan BRN melalui perantara Malaysia," ungkap Paradorn Pattanatabut, kepala Dewan Keamanan Nasional dan negosiator perdamaian Thailand. "Kami akan membahas mengenai angka kematian selama Ramadan untuk mengetahui siapa yang berada di balik pembunuhan itu," katanya.
(esn)