Bocoran Snowden: AS bayar mata-mata Inggris Rp1,5 trilun
Jum'at, 02 Agustus 2013 - 14:50 WIB
Bocoran Snowden: AS bayar mata-mata Inggris Rp1,5 trilun
A
A
A
Sindonews.com – Media Inggris merilis bocoran terbaru yang diklaim dari wishtleblower NSA, Edward Snowden. Isinya, AS telah membayar sekitar USD150 juta atau setara Rp1,5 triliun untuk agen mata-mata terbesar Inggris selama tiga tahun terakhir.
Dana sebesar itu, dibayarkan kepada GCHQ (agen mata-mata Inggris), untuk pengumpulan data. Bocoran itu dirilis, nyaris bersamaan dengan pemberian suaka dari pemerintah Rusia untuk Snowden. Guardian, pada Jumat (2/8/2013), melaporkan, AS menuntut GCHQ bekerja keras untuk memenuhi permintaan AS.
Sejumlah media yang mengungkap kedekatan hubungan GCHQ dengan American National Security Agency (NSA) atau Badan Keamanan Nasional AS, juga mulai khawatir dengan sepak terjang organisasi mata-mata terbesar AS yang berseragam GCHQ.
Dalam sebuah dokumen tahun 2010, GCHQ mengakui bahwa AS telah mengangkat sejumlah isu untuk memenuhi harapan NSA. Pejabat Inggris membantah jika GCHQ menjadi bawahan NSA. Mereka percaya agen mata-mata Inggris bekerja atas pengawasan hukum Inggris.
”Ketakutan terbesar Inggris adalah, muncul persepsi dari AS, bahwa kemitraan akan berkurang, dan menyebabkan hilangnya akses, atau pengurangan investasi ke Inggris," tulis Guardian.
Masih menurut media Inggris itu, dalam satu kasus, NSA membayar setengah dari biaya satu program penyadapan utama Inggris di Siprus. Seorang manajer senior GCHQ di Siprus, mengatakan pada November 2011, bahwa kekurangan staf di sana akan mempengaruhi komitmen mereka untuk NSA.
”Ini tidak berkelanjutan, mencerminkan kinerja dan komitmen buruk dari kami kepada NSA,” lanjut Guardian, mengutip pernyataan manajer GCHQ itu.
Dana sebesar itu, dibayarkan kepada GCHQ (agen mata-mata Inggris), untuk pengumpulan data. Bocoran itu dirilis, nyaris bersamaan dengan pemberian suaka dari pemerintah Rusia untuk Snowden. Guardian, pada Jumat (2/8/2013), melaporkan, AS menuntut GCHQ bekerja keras untuk memenuhi permintaan AS.
Sejumlah media yang mengungkap kedekatan hubungan GCHQ dengan American National Security Agency (NSA) atau Badan Keamanan Nasional AS, juga mulai khawatir dengan sepak terjang organisasi mata-mata terbesar AS yang berseragam GCHQ.
Dalam sebuah dokumen tahun 2010, GCHQ mengakui bahwa AS telah mengangkat sejumlah isu untuk memenuhi harapan NSA. Pejabat Inggris membantah jika GCHQ menjadi bawahan NSA. Mereka percaya agen mata-mata Inggris bekerja atas pengawasan hukum Inggris.
”Ketakutan terbesar Inggris adalah, muncul persepsi dari AS, bahwa kemitraan akan berkurang, dan menyebabkan hilangnya akses, atau pengurangan investasi ke Inggris," tulis Guardian.
Masih menurut media Inggris itu, dalam satu kasus, NSA membayar setengah dari biaya satu program penyadapan utama Inggris di Siprus. Seorang manajer senior GCHQ di Siprus, mengatakan pada November 2011, bahwa kekurangan staf di sana akan mempengaruhi komitmen mereka untuk NSA.
”Ini tidak berkelanjutan, mencerminkan kinerja dan komitmen buruk dari kami kepada NSA,” lanjut Guardian, mengutip pernyataan manajer GCHQ itu.
(esn)