PBB: Jumlah korban tewas di Suriah lebih dari 100 ribu
Jum'at, 26 Juli 2013 - 15:05 WIB
PBB: Jumlah korban tewas di Suriah lebih dari 100 ribu
A
A
A
Sindonews.com - Jumlah korban tewas dalam perang yang dilancarkan pemberontak terhadap militer Suriah dalam rangka menyingkirkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, telah mencapai dari 100 ribu jiwa. Demikian Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Jumat, (25/7/2013).
"Lebih dari 100 ribu orang telah tewas, sementara jutaan orang telah menjadi pengungsi di negara-negara tetangga," ungkap Ki-moon dalam sebuah sambutan saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry.
"Ini semua harus segera diakhiri, aksi militerisme dan kekeran yang dilakukan oleh dua pihak harus dihentikan. Oleh karena itu, penting untuk segera menggelar konferensi Jenewa," imbuh Ki-moon.
Kekerasan antara pemberontak dan tentara Suriah harus segera diakhiri. Sebab, pertikaian itu tidak hanya menewaskan ratusan ribu jiwa, tetapi jugaa menyebabkan jumlah pengungsi ke sejumlah negara tentangga terus bertambah dan jumlahnya telah mencapai jutaan orang.
Menurut catatan PBB, sepanjang Mei lalu tercatat ada 1,5 juta warga Suriah yang memutuskan untuk meninggalkan Suriah, sementara 4 juta orang tetap tinggal di sana dan terlunta-lunta.
Sementara itu Observatorium Hak Asasi Manusia untuk Suriah mengungkapkan, dalam dua pekan tercatat ada 2.014 jiwa yang tewas. Dari jumlah itu, 1.323 adalah pejuang anti rezim pemerintah Suriah.
Kerry mengatakan, tidak ada solusi militer untuk Suriah, yang ada hanyalah solusi politik. "Untuk mewujudkan itu, para pemimpin perlu duduk bersama dalam satu meja," terang Kerry.
"Saya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dan komitmen kami tetap sama dengan sebelumnya, yakni membawa pihak yang bertikai dalam pertemuan Jenewa II, untuk memaksa mereka mengimplementasikan pertemuan Jenewa 1 dan berusaha merealisasikan itu secepatnya," terang Kerry.
"Lebih dari 100 ribu orang telah tewas, sementara jutaan orang telah menjadi pengungsi di negara-negara tetangga," ungkap Ki-moon dalam sebuah sambutan saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry.
"Ini semua harus segera diakhiri, aksi militerisme dan kekeran yang dilakukan oleh dua pihak harus dihentikan. Oleh karena itu, penting untuk segera menggelar konferensi Jenewa," imbuh Ki-moon.
Kekerasan antara pemberontak dan tentara Suriah harus segera diakhiri. Sebab, pertikaian itu tidak hanya menewaskan ratusan ribu jiwa, tetapi jugaa menyebabkan jumlah pengungsi ke sejumlah negara tentangga terus bertambah dan jumlahnya telah mencapai jutaan orang.
Menurut catatan PBB, sepanjang Mei lalu tercatat ada 1,5 juta warga Suriah yang memutuskan untuk meninggalkan Suriah, sementara 4 juta orang tetap tinggal di sana dan terlunta-lunta.
Sementara itu Observatorium Hak Asasi Manusia untuk Suriah mengungkapkan, dalam dua pekan tercatat ada 2.014 jiwa yang tewas. Dari jumlah itu, 1.323 adalah pejuang anti rezim pemerintah Suriah.
Kerry mengatakan, tidak ada solusi militer untuk Suriah, yang ada hanyalah solusi politik. "Untuk mewujudkan itu, para pemimpin perlu duduk bersama dalam satu meja," terang Kerry.
"Saya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dan komitmen kami tetap sama dengan sebelumnya, yakni membawa pihak yang bertikai dalam pertemuan Jenewa II, untuk memaksa mereka mengimplementasikan pertemuan Jenewa 1 dan berusaha merealisasikan itu secepatnya," terang Kerry.
(esn)