Pimpinan pembangkang Iran dituduh langgar HAM di Irak
Rabu, 17 Juli 2013 - 10:33 WIB
Pimpinan pembangkang Iran dituduh langgar HAM di Irak
A
A
A
Sindonews.com – Utusan khusus PBB di Irak menuduh pimpinan kelompok pembangkang Iran, Mujahadin-e-Khalq, melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di kamp Huriya, Irak. Selama satu dekade tinggal di kamp itu, pimpinan pembangkang Iran itu dianggap terlalu mengengkang penghuni kamp.
Kelompok Dewan Nasional Perlawanan Iran dan sayap politiknya, telah berulang kali mengeluh tentang kondisi di kamp Hurriya, yang sebelumnya dikenal sebagai kamp Liberty.
Utusan PBB, Martin Kobler, mengatakan, Dewan Keamanan PBB telah menerima keluhan tentang kepemimpinan kelompok pembangkang Iran di kamp itu. ”Ada keprihatinan yang meningkat dari pelanggaran HAM di kamp Hurriya, yang dilakukan pimpinan kamp itu sendiri,” kata Kobler, dikutip Reuters, Rabu (17/7/2013).
”Ratusan aduan yang masuk menunjukkan, bahwa kehidupan anggota di kamp Hurriya dikontrol secara ketat. Mereka tidak bebas untuk meninggalkan kamp, guna membangun permukiman kembali yang ditawarkan oleh UNHCR,” lanjut Kobler.
Saking ketatnya pengawasan pimpinan kelompok pembangkang Iran itu, para penghuni kamp tidak bisa menghubungi kerabat mereka di luar Irak. ”Bahkan di lingkungan kamp itu sendiri,” ujar Kobler.
Mujahadin-e-Khalq, masuk daftar organisasi teroris yang dirilis AS tahun lalu. Kelompok itu selama ini menyerukan menyerukan penggulingan Iran yang dipimpin ulama Muslim Syiah. Kelompok itu berjuang bersama kelompok pro-Saddam Hussein dalam perang Iran-Irak 1980-1988.
Juru bicara Dewan Nasional Perlawanan Iran, Shahin Gobadi, membantah tuduhan Kobler. ”Tuduhan-tuduhan ini sangat tak berdasar, bahwa resistensi di Iran telah 50 kali terjadi, dan semua kebohongan telah disebarluaskan Kobler,” katanya.
Kelompok Dewan Nasional Perlawanan Iran dan sayap politiknya, telah berulang kali mengeluh tentang kondisi di kamp Hurriya, yang sebelumnya dikenal sebagai kamp Liberty.
Utusan PBB, Martin Kobler, mengatakan, Dewan Keamanan PBB telah menerima keluhan tentang kepemimpinan kelompok pembangkang Iran di kamp itu. ”Ada keprihatinan yang meningkat dari pelanggaran HAM di kamp Hurriya, yang dilakukan pimpinan kamp itu sendiri,” kata Kobler, dikutip Reuters, Rabu (17/7/2013).
”Ratusan aduan yang masuk menunjukkan, bahwa kehidupan anggota di kamp Hurriya dikontrol secara ketat. Mereka tidak bebas untuk meninggalkan kamp, guna membangun permukiman kembali yang ditawarkan oleh UNHCR,” lanjut Kobler.
Saking ketatnya pengawasan pimpinan kelompok pembangkang Iran itu, para penghuni kamp tidak bisa menghubungi kerabat mereka di luar Irak. ”Bahkan di lingkungan kamp itu sendiri,” ujar Kobler.
Mujahadin-e-Khalq, masuk daftar organisasi teroris yang dirilis AS tahun lalu. Kelompok itu selama ini menyerukan menyerukan penggulingan Iran yang dipimpin ulama Muslim Syiah. Kelompok itu berjuang bersama kelompok pro-Saddam Hussein dalam perang Iran-Irak 1980-1988.
Juru bicara Dewan Nasional Perlawanan Iran, Shahin Gobadi, membantah tuduhan Kobler. ”Tuduhan-tuduhan ini sangat tak berdasar, bahwa resistensi di Iran telah 50 kali terjadi, dan semua kebohongan telah disebarluaskan Kobler,” katanya.
(esn)