Eropa serukan penyelidikan atas kekerasan polisi Turki
Sabtu, 06 Juli 2013 - 17:26 WIB
Eropa serukan penyelidikan atas kekerasan polisi Turki
A
A
A
Sindonews.com – Komisaris Dewan HAM Eropa, Nils Muiznieks pada Sabtu (6/7/2013), mendesak untuk dilakukan penyelidikan atas penggunaan kekuatan polisi yang berlebihan dalam protes anti-pemerintah Turki bulan lalu.
”Semua kasus-kasus penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi harus benar-benar diselidiki dan dihukum secara setimpal,” kata Muiznieks pada konferensi pers saat berkunjung lima hari ke Turki, dikutip The News.
Kunjungannya dilakukan, setelah Pemerintah Islam Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, pada bulan Juni lalu digoyang demonstrasi besar. Sekitar 2,5 juta orang, saat itu turun ke jalan memprotes rencana Pemerintah Turki membongkar Taman Gezi untuk dijadikan pusat perbelanjaan.
Empat orang tewas dan 8 ribu terluka, ketika polisi menumpas demonstrasi, dengan tindakan keras.
Muiznieks mengatakan, kunjungannya ke negara itu, penting karena Turki dianggap sebagai model negara demokrasi yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia mengklaim kunjungan itu sudah direncanakan, jauh sebelum muncul demonstrasi besar di Turki.
”Satu-satunya cara untuk penyembuhan ’luka’ di Turki adalah melakukan penyelidikan dugaan pelanggaran pasukan keamanan secara imparsial, independen dan efektif, dengan melibatkan korban,” ujarnya.
”Semua kasus-kasus penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi harus benar-benar diselidiki dan dihukum secara setimpal,” kata Muiznieks pada konferensi pers saat berkunjung lima hari ke Turki, dikutip The News.
Kunjungannya dilakukan, setelah Pemerintah Islam Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, pada bulan Juni lalu digoyang demonstrasi besar. Sekitar 2,5 juta orang, saat itu turun ke jalan memprotes rencana Pemerintah Turki membongkar Taman Gezi untuk dijadikan pusat perbelanjaan.
Empat orang tewas dan 8 ribu terluka, ketika polisi menumpas demonstrasi, dengan tindakan keras.
Muiznieks mengatakan, kunjungannya ke negara itu, penting karena Turki dianggap sebagai model negara demokrasi yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia mengklaim kunjungan itu sudah direncanakan, jauh sebelum muncul demonstrasi besar di Turki.
”Satu-satunya cara untuk penyembuhan ’luka’ di Turki adalah melakukan penyelidikan dugaan pelanggaran pasukan keamanan secara imparsial, independen dan efektif, dengan melibatkan korban,” ujarnya.
(esn)