Australia & Kanada peringatkan ancaman teroris di Filipina
Rabu, 03 Juli 2013 - 16:51 WIB
Australia & Kanada peringatkan ancaman teroris di Filipina
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Australia dan Kanada pada Rabu (3/7/2013), memperingatkan tentang ancaman baru kelompok teroris di tiga daerah di Filipina selatan. Para warga dan diplomat Canberra sudah dilarang untuk bepergian di wilayah Filipina selatan untuk menghindari serangan teroris, yang salah satunya berupa penculikan.
Ketiga daerah di Filipina yang dilarang untuk dikunjungi itu, antara lain, Davao, Cotabato dan Zamboanga. Kedua negara itu juga melarang warganya bepergian di daerah Mindanao, Filipina.
Dikutip Daily Star, seorang juru bicara kedutaan Australia kepada AFP, mengatakan larangan perjalanan mulai berlaku dari Senin (1/7/2013) dan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. ”Kami memiliki petugas khusus untuk menjamin keamanan para staf kami di luar negeri,” katanya. Kedutaan menolak untuk membahas setiap ancaman yang spesifik.
Sedangkan Kedutaan Kanada menyarankan, agar warganya menghindari semua perjalanan ke berbagai daerah di Mindanao. Karena ancaman serius dari serangan teroris dan penculikan.
Pada akhir 2002 Australia dan Kanada menutup kedutaan mereka di Manila, selama lebih dari sebulan karena adanya ancaman teroris. Kedutaan dua negara itu kemudian pindah ke lokasi baru yang dianggap lebih aman.
Mindanao menjadi sarang dari pemberontakan Muslim. Presiden Benigno Aquino sebelum 2016, berencana untuk menandatangani perjanjian damai dengan Front Pembebasan Islam Moro, yang merupakan kelompok militan terbesar di sana. Pulau itu juga menjadi markas kelompok Abu Sayyaf, kelompok militan yang mempunyai jaringan dengan al-Qaeda.
Ketiga daerah di Filipina yang dilarang untuk dikunjungi itu, antara lain, Davao, Cotabato dan Zamboanga. Kedua negara itu juga melarang warganya bepergian di daerah Mindanao, Filipina.
Dikutip Daily Star, seorang juru bicara kedutaan Australia kepada AFP, mengatakan larangan perjalanan mulai berlaku dari Senin (1/7/2013) dan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. ”Kami memiliki petugas khusus untuk menjamin keamanan para staf kami di luar negeri,” katanya. Kedutaan menolak untuk membahas setiap ancaman yang spesifik.
Sedangkan Kedutaan Kanada menyarankan, agar warganya menghindari semua perjalanan ke berbagai daerah di Mindanao. Karena ancaman serius dari serangan teroris dan penculikan.
Pada akhir 2002 Australia dan Kanada menutup kedutaan mereka di Manila, selama lebih dari sebulan karena adanya ancaman teroris. Kedutaan dua negara itu kemudian pindah ke lokasi baru yang dianggap lebih aman.
Mindanao menjadi sarang dari pemberontakan Muslim. Presiden Benigno Aquino sebelum 2016, berencana untuk menandatangani perjanjian damai dengan Front Pembebasan Islam Moro, yang merupakan kelompok militan terbesar di sana. Pulau itu juga menjadi markas kelompok Abu Sayyaf, kelompok militan yang mempunyai jaringan dengan al-Qaeda.
(esn)