Pemerintah Kamboja larang media asing liput Pemilu
Sabtu, 29 Juni 2013 - 12:59 WIB
Pemerintah Kamboja larang media asing liput Pemilu
A
A
A
Sindonews.com- Pemerintah Kamboja telah melarang stasiun radio lokal membawa radio asing untuk membuat laporan apa pun terkait kampanye dan Pemilu di negara itu. Dikutip Reuters, Sabtu (29/6/2013), larangan itu memicu kritikan tajam dari sejumlah media asing yang selama ini meliput di Kamboja.
Perdana Menteri Hun Sen, salah satu pemimpin dunia terlama, memiliki kontrol semua stasiun televisi lokal dan stasiun radio di Kamboja. Dia berharap Partai Rakyat Kamboja (CPP) yang ia pimpin memenangkan Pemilu 28 Juli 2013 nanti.
Radio Free Asia (RFA), salah satu dari dua stasiun radio yang didanai AS yang menawarkan program dalam bahasa Khmer melalui radio lokal dan bebas dari pengaruh pemerintah, mengatakan, sensor media akan menghambat Pemilu yang demokrasi.
Dalam sebuah pernyataannya pada Jumat (28/6/2013) malam, Departemen Penerangan Kamboja, mengatakan, semua stasiun radio harus netral dan tidak boleh membawa atau menyebarkan laporannya kepada media asing untuk momen Pemilu.
Pernyataan departemen itu, juga meminta menangguhkan penyiaran program media asing berbahasa Khmer. ”(Larangan itu), yang paling menyakitkan dan menakjubkan sebagai serangan frontal terhadap kebebasan media di Kamboja. Dan itu strategi terang-terangan untuk membungkam jenis suara yang berbeda dan bervariasi di masyarakat,” kata Juru Bicara Radio Free Asia, John A. Estrella.
Dua stasiun lokal, Women Media Center FM 102 dan Beehive FM 105, berhenti memberikan siaran ulang kepada RFA dan VOA, sejak Jumat kemarin. Tahun lalu, Pemerintah Kamboja mengancam tindakan hukum terhadap RFA dan VOA, dan menuduh mereka memihak pihak oposisi dan mempromosikan kebijakan luar negeri AS.
Perdana Menteri Hun Sen, salah satu pemimpin dunia terlama, memiliki kontrol semua stasiun televisi lokal dan stasiun radio di Kamboja. Dia berharap Partai Rakyat Kamboja (CPP) yang ia pimpin memenangkan Pemilu 28 Juli 2013 nanti.
Radio Free Asia (RFA), salah satu dari dua stasiun radio yang didanai AS yang menawarkan program dalam bahasa Khmer melalui radio lokal dan bebas dari pengaruh pemerintah, mengatakan, sensor media akan menghambat Pemilu yang demokrasi.
Dalam sebuah pernyataannya pada Jumat (28/6/2013) malam, Departemen Penerangan Kamboja, mengatakan, semua stasiun radio harus netral dan tidak boleh membawa atau menyebarkan laporannya kepada media asing untuk momen Pemilu.
Pernyataan departemen itu, juga meminta menangguhkan penyiaran program media asing berbahasa Khmer. ”(Larangan itu), yang paling menyakitkan dan menakjubkan sebagai serangan frontal terhadap kebebasan media di Kamboja. Dan itu strategi terang-terangan untuk membungkam jenis suara yang berbeda dan bervariasi di masyarakat,” kata Juru Bicara Radio Free Asia, John A. Estrella.
Dua stasiun lokal, Women Media Center FM 102 dan Beehive FM 105, berhenti memberikan siaran ulang kepada RFA dan VOA, sejak Jumat kemarin. Tahun lalu, Pemerintah Kamboja mengancam tindakan hukum terhadap RFA dan VOA, dan menuduh mereka memihak pihak oposisi dan mempromosikan kebijakan luar negeri AS.
(esn)