Myanmar musnahkan narkoba senilai USD76,7 juta
Kamis, 27 Juni 2013 - 02:08 WIB
Myanmar musnahkan narkoba senilai USD76,7 juta
A
A
A
Sindonews.com – Pihak berwenang Myanmar memusnahkah narkoba senilai USD76,7 juta. Pemusnahan dilakukan di tiga kota, Yangon, Mandalay, dan Taunggyi, Rabu (26/6/2013). Pemusnahan obat dan zat terlarang ini dilakukan bertepatan dengan Hari Anti-Narkoba Dunia.
Seperti dilaporkan Xinhua, narkoba sitaan itu dimusnahkan dengan cara dibakar itu. Di Taunggyi, narkoba yang dimusnahkan memiliki nilai pasaran USD44 juta. Sedangkan narkoba yang dibakar di Yangon bernilai pasaran USD4,6 juta.
Obat-obatan yang dibakar di Yangon terutama meliputi heroin, ganja, dan tablet stimulan, serta bahan kimia lainnya. Letnan Kolonel Polisi Tin Aung, yang menjabat sebagai Wakil Direktur Hukum dan Riset Komite Sentral untuk Drug Abuse Control (CCDAC), mengatakan kepada Xinhua, bahwa produksi opium meningkat di Myanmar tahun demi tahun.
“Fakta ini mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah, termasuk mendidik petani opium untuk menghentikan produksi dan melakukan pembangunan alternatif di daerah,” jelasnya.
Sementara itu, dalam pesannya pada kesempatan tersebut, Ketua CCDAC, Letnan Jenderal Ko Ko, yang juga Menteri Dalam Negeri, menyerukan pada rakyat negara itu, pemuda, organisasi internasional, organisasi pemerintah, dan non-pemerintah untuk bekerja sama dalam pemberantasan narkoba.
Menurutnya, Pemerintah Myanmar telah memperpanjang lima tahun rencana eliminasi obat terlarang. Semula, rencana itu dijadwalkan berlangsung selama 15 tahun, sejak 1992 hingga 2014. Namun kini, rencana itu diperpanjang hingga 2019.
Seperti dilaporkan Xinhua, narkoba sitaan itu dimusnahkan dengan cara dibakar itu. Di Taunggyi, narkoba yang dimusnahkan memiliki nilai pasaran USD44 juta. Sedangkan narkoba yang dibakar di Yangon bernilai pasaran USD4,6 juta.
Obat-obatan yang dibakar di Yangon terutama meliputi heroin, ganja, dan tablet stimulan, serta bahan kimia lainnya. Letnan Kolonel Polisi Tin Aung, yang menjabat sebagai Wakil Direktur Hukum dan Riset Komite Sentral untuk Drug Abuse Control (CCDAC), mengatakan kepada Xinhua, bahwa produksi opium meningkat di Myanmar tahun demi tahun.
“Fakta ini mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah, termasuk mendidik petani opium untuk menghentikan produksi dan melakukan pembangunan alternatif di daerah,” jelasnya.
Sementara itu, dalam pesannya pada kesempatan tersebut, Ketua CCDAC, Letnan Jenderal Ko Ko, yang juga Menteri Dalam Negeri, menyerukan pada rakyat negara itu, pemuda, organisasi internasional, organisasi pemerintah, dan non-pemerintah untuk bekerja sama dalam pemberantasan narkoba.
Menurutnya, Pemerintah Myanmar telah memperpanjang lima tahun rencana eliminasi obat terlarang. Semula, rencana itu dijadwalkan berlangsung selama 15 tahun, sejak 1992 hingga 2014. Namun kini, rencana itu diperpanjang hingga 2019.
(esn)