Aktivis China klaim membangkang, karena ditekan kampus di AS
Senin, 17 Juni 2013 - 13:54 WIB
Aktivis China klaim membangkang, karena ditekan kampus di AS
A
A
A
Sindonews.com – Chen Guangcheng, aktivis China yang melarikan diri dari negaranya, dan menjadi dosen tamu di New York University (NYU), menuduh kampus tersebut sudah menekannya agar dia pergi dari China. Namun, kampus itu menyangkal dengan menyebut keberadaan aktivis itu ke AS terkait program persahabatan.
Menurut pihak NYU, Chen berada di kampus itu hingga satu tahun pada musim panas ini. Chen telah memicu krisis diplomatik antara AS dan China setelah ia melarikan diri tahanan rumah tahun lalu dan mengungsi di Kedutaan Besar AS di Beijing.
NYU membantu Chen datang ke AS setelah ia menyatakan khawatir akan keselamatan keluarganya jika mereka tetap tinggal di China.
Dalam sebuah pernyataan, Chen berterima kasih untuk keramahan dan dukungan yang baik kepada NYU. Tapi ia menyebut sudah menyerah pada Komunis China. ”Bahkan, pada awal Agustus dan September tahun lalu ada tekanan itu. NYU sudah mulai mendiskusikan keberangkatan kami,” tulis Chen, dikutip Reuters pada Senin (17/6/2013).
Chen, yang buta sejak lahir dan belajar sendiri soal hukum, selama ini gencar berkampanye untuk petani dan orang cacat. Dia dipaksa melakukan aborsi di China sebelum dia akhirnya dijadikan tahanan rumah di Provinsi Shandon, China.
Ia terus bersikap kritis terhadap hak asasi manusia di China. Ia datang ke New York pada Mei 2012 dengan istri dan dua anaknya.
Seorang profesor hukum di NYU dan teman Chen yang membantu keberangkatannya ke New York dari China, menyebut itu teori konspirasi. ”Kita harus (klarifikasi) semua tuduhan itu pada fakta, bukan spekulasi dan teori konspirasi yang tidak didukung oleh fakta-fakta ,” ujarnya kepada Reuters untuk menanggapi pernyataan Chen.
Menurut pihak NYU, Chen berada di kampus itu hingga satu tahun pada musim panas ini. Chen telah memicu krisis diplomatik antara AS dan China setelah ia melarikan diri tahanan rumah tahun lalu dan mengungsi di Kedutaan Besar AS di Beijing.
NYU membantu Chen datang ke AS setelah ia menyatakan khawatir akan keselamatan keluarganya jika mereka tetap tinggal di China.
Dalam sebuah pernyataan, Chen berterima kasih untuk keramahan dan dukungan yang baik kepada NYU. Tapi ia menyebut sudah menyerah pada Komunis China. ”Bahkan, pada awal Agustus dan September tahun lalu ada tekanan itu. NYU sudah mulai mendiskusikan keberangkatan kami,” tulis Chen, dikutip Reuters pada Senin (17/6/2013).
Chen, yang buta sejak lahir dan belajar sendiri soal hukum, selama ini gencar berkampanye untuk petani dan orang cacat. Dia dipaksa melakukan aborsi di China sebelum dia akhirnya dijadikan tahanan rumah di Provinsi Shandon, China.
Ia terus bersikap kritis terhadap hak asasi manusia di China. Ia datang ke New York pada Mei 2012 dengan istri dan dua anaknya.
Seorang profesor hukum di NYU dan teman Chen yang membantu keberangkatannya ke New York dari China, menyebut itu teori konspirasi. ”Kita harus (klarifikasi) semua tuduhan itu pada fakta, bukan spekulasi dan teori konspirasi yang tidak didukung oleh fakta-fakta ,” ujarnya kepada Reuters untuk menanggapi pernyataan Chen.
(esn)