Pembicaraan Obama & Putin soal Suriah berpotensi kacau
Senin, 17 Juni 2013 - 11:34 WIB
Pembicaraan Obama & Putin soal Suriah berpotensi kacau
A
A
A
Sindonews.com - Presiden AS, Barack Obama akan bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin pada Senin (17/6/2013) untuk membahas krisis Suriah. Namun, pembicaraan kedua presiden itu berpotensi kacau karena kedua pihak saling memberikan dukungan militer pada dua kubu yang saling berlawanan di Suriah.
Dikutip News24, Obama meninggalkan Washington pada Minggu (16/6/2013) malam. Ia akan menemui Putin dalam pertemuan puncak KTT G8 di Irlandia Utara, setelah pemerintahannya mengisyaratkan untuk mempersenjatai pemberontak dalam melawan Rezim Pemerintahan Bashar al-Assad.
Rencana AS yang diputuskan pada pekan lalu itu semakin memanaskan suasana pertemuan politik Obama dan Putin. Sebab, Rusia mengutuk tudingan AS yang menyebut Rezim Assad telah kelewat batas dengan menggunakan senjata kimia dalam menghadapi pemberontak. Rusia meragukan tudingan AS itu.
Rusia terang-terangan mendukung kepemimpinan Assad tanpa intervensi pihak asing. Sebaliknya Obama berulang kali meminta agar Assad meninggalkan kekuasaannya.
”Kami masih terus membahas dengan Rusia apakah ada cara untuk menyatukan rezim dan oposisi untuk mencapai penyelesaian politik,” kata Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS, Ben Rhodes. ”Tidak bisa membayangkan, bahwa itu akan mudah,” lanjut dia.
Sementara, Putin tidak berminat untuk berkompromi, dan tetap mengecam keputusan AS untuk mempersenjatai oposisi Suriah. ”Hal ini tidak layak (memasok senjata) untuk mendukung orang-orang yang tidak hanya membunuh musuh mereka, tetapi membedah tubuh mereka dan makan organ dalam mereka di depan publik dan kamera,” kata Putin di London pada Minggu.
Para pejabat AS akan mencoba untuk meyakinkan Putin, bahwa rezim yang membuat kekacauan dan ketidakstabilan di Suriah, tidak masuk dalam kepentingan nasional Moskow. AS juga ingin meyakinkan kepada Rusia bahwa dengan meninggalkan (dukungan) kepada Rezim Assad akan berbuah simpati pada Rusia.
”Saya tidak berpikir Obama akan menggeser Putin dalam cara berpikirnya. Perancis dan Inggris tentu tidak akan mampu melakukan ini,” kata peneliti di Wilson Center, Washington, Michael Geary.
Dikutip News24, Obama meninggalkan Washington pada Minggu (16/6/2013) malam. Ia akan menemui Putin dalam pertemuan puncak KTT G8 di Irlandia Utara, setelah pemerintahannya mengisyaratkan untuk mempersenjatai pemberontak dalam melawan Rezim Pemerintahan Bashar al-Assad.
Rencana AS yang diputuskan pada pekan lalu itu semakin memanaskan suasana pertemuan politik Obama dan Putin. Sebab, Rusia mengutuk tudingan AS yang menyebut Rezim Assad telah kelewat batas dengan menggunakan senjata kimia dalam menghadapi pemberontak. Rusia meragukan tudingan AS itu.
Rusia terang-terangan mendukung kepemimpinan Assad tanpa intervensi pihak asing. Sebaliknya Obama berulang kali meminta agar Assad meninggalkan kekuasaannya.
”Kami masih terus membahas dengan Rusia apakah ada cara untuk menyatukan rezim dan oposisi untuk mencapai penyelesaian politik,” kata Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS, Ben Rhodes. ”Tidak bisa membayangkan, bahwa itu akan mudah,” lanjut dia.
Sementara, Putin tidak berminat untuk berkompromi, dan tetap mengecam keputusan AS untuk mempersenjatai oposisi Suriah. ”Hal ini tidak layak (memasok senjata) untuk mendukung orang-orang yang tidak hanya membunuh musuh mereka, tetapi membedah tubuh mereka dan makan organ dalam mereka di depan publik dan kamera,” kata Putin di London pada Minggu.
Para pejabat AS akan mencoba untuk meyakinkan Putin, bahwa rezim yang membuat kekacauan dan ketidakstabilan di Suriah, tidak masuk dalam kepentingan nasional Moskow. AS juga ingin meyakinkan kepada Rusia bahwa dengan meninggalkan (dukungan) kepada Rezim Assad akan berbuah simpati pada Rusia.
”Saya tidak berpikir Obama akan menggeser Putin dalam cara berpikirnya. Perancis dan Inggris tentu tidak akan mampu melakukan ini,” kata peneliti di Wilson Center, Washington, Michael Geary.
(esn)