PM Turki: Kesabaran pemerintah ada batasnya
Minggu, 09 Juni 2013 - 23:13 WIB
PM Turki: Kesabaran pemerintah ada batasnya
A
A
A
Sindonews.com – Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada ribuan pendukungnya pada Minggu (9/6/2013), bahwa kesabaran memiliki batas. Ucapan ini dilontarkan, di tengah masih maraknya aksi protes anti pemerintah di Kota Istanbul.
“Kami masih sabar, tapi kesabaran ada batasnya,” tegas Erdogan, yang langsung disambut teriakan dari para pendukungnya. "Kami siap mengorbankan hidup kami untuk Anda, Tayyip!", teriak para pendukung PM Turki.
Di tengah maraknya aksi massa anti pemerintah, Erdogan melakukan kampanye ke beberapa kota di Turki untuk menemui para pendukungnya. Dalam kampanye itu, ia mendesak para demonstran untuk menggunakan pemilihan lokal tahun depan untuk menyalurkan aspirasi mereka.
"Saya ingin Anda mengajarkan mereka pelajaran pertama melalui cara-cara demokratis di kotak suara," kata Erdogan di selatan kota Adana, di mana ia disambut oleh lautan loyalis yang melambaikan bendera Turki.
Adana adalah salah satu kota yang diwarnai bentrokan antara massa anti pemerintah dengan polisi. Aparat keamanan menyiram demonstran dengan gas air mata. Ada juga laporan soal pelemparan batu dari kubu pro-pemerintah yang bergabung dalam bentrokan itu.
Hingga kini, ribuan demonstran dilaporkan terluka dalam 10 hari aksi massa di sejumlah kota di Turki. Sementara korban tewas berjumlah 3 orang. Fakta ini menodai citra Turki sebagai negara model demokrasi Islam.
Erdogan sendiri mengaku akan tetap mempertahankan kebijakan garis kerasnya terhadap para pengunjuk rasa. Erdogan tak akan memenuhi keinginan para pengunjuk rasa, yang memintanya mundur dari kursi Perdana Menteri Turki.
“Kami masih sabar, tapi kesabaran ada batasnya,” tegas Erdogan, yang langsung disambut teriakan dari para pendukungnya. "Kami siap mengorbankan hidup kami untuk Anda, Tayyip!", teriak para pendukung PM Turki.
Di tengah maraknya aksi massa anti pemerintah, Erdogan melakukan kampanye ke beberapa kota di Turki untuk menemui para pendukungnya. Dalam kampanye itu, ia mendesak para demonstran untuk menggunakan pemilihan lokal tahun depan untuk menyalurkan aspirasi mereka.
"Saya ingin Anda mengajarkan mereka pelajaran pertama melalui cara-cara demokratis di kotak suara," kata Erdogan di selatan kota Adana, di mana ia disambut oleh lautan loyalis yang melambaikan bendera Turki.
Adana adalah salah satu kota yang diwarnai bentrokan antara massa anti pemerintah dengan polisi. Aparat keamanan menyiram demonstran dengan gas air mata. Ada juga laporan soal pelemparan batu dari kubu pro-pemerintah yang bergabung dalam bentrokan itu.
Hingga kini, ribuan demonstran dilaporkan terluka dalam 10 hari aksi massa di sejumlah kota di Turki. Sementara korban tewas berjumlah 3 orang. Fakta ini menodai citra Turki sebagai negara model demokrasi Islam.
Erdogan sendiri mengaku akan tetap mempertahankan kebijakan garis kerasnya terhadap para pengunjuk rasa. Erdogan tak akan memenuhi keinginan para pengunjuk rasa, yang memintanya mundur dari kursi Perdana Menteri Turki.
(esn)