Ribuan orang gabung aksi protes menentang PM Turki
Sabtu, 08 Juni 2013 - 16:49 WIB
Ribuan orang gabung aksi protes menentang PM Turki
A
A
A
Sindonews.com - Ribuan warga Turki yang marah turun ke jalan pada Sabtu(8/6/2013) untuk bergabung dalam protes massa anti-pemerintah. Aksi itu juga untuk menentang seruan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan guna mengakhiri protes.
Sejak pagi, pengunjuk rasa mulai tiba di Istanbul Taksim Square dengan berbekal makanan dan selimut. Mereka mendirikan tenda di sekitar Taman Gezi dan menetap untuk akhir pekan ini.
”Seminggu yang lalu, saya tidak pernah bisa membayangkan saya tidur di jalan-jalan Istanbul,” kata Aleyna, 22, seorang demonstran yang berselimut dan menunjukan pakaian kotornya. ”Sekarang saya tidak tahu bagaimana saya bisa kembali,” katanya lagi, dikutip AFP.
Erdogan pada Jumat, dengan agresif menyerukan agar protes massa anti-pemerintah dihentikan. Dia menyebut, demokrasi yang ditunjukkan para demonstran sudah berubah jadi aksi vandalisme.
Polisi juga mulai kesulitan untuk menindak tegas para demonstran yang memprotes pembongkaran Taman Gezi, setelah mendapat sorotan dari berbagai kalangan, termasuk Amerika Serikat.
Sebaliknya, para demonstran menilai Erdogan dan Partai Keadilan dan Partai Pembangunan (AKP) pimpinannya, sudah bertindak otoriter. Polisi Turki dapat sorotan tajam dari berbagai kalangan, tatkala menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran.
Tiga orang tewas dan ribuan lainnya terluka selama protes yang mencoreng citra Turki sebagai model demokrasi Islam. Menghadapi kecaman internasional atas penanganan demonstran, Erdogan pada Jumat justru menuduh sekutu Barat menerapkan standar ganda dalam menilai demokrasi di Turki.
Ia menyebut, aksi massa di Turki telah dimanipulasi oleh kaum ekstrimis. Erdogan mengklaim, selama ini sudah melunak. ”Saya terbuka kepada siapa pun yang menuntut demokrasi,” ujarnya.
Sejak pagi, pengunjuk rasa mulai tiba di Istanbul Taksim Square dengan berbekal makanan dan selimut. Mereka mendirikan tenda di sekitar Taman Gezi dan menetap untuk akhir pekan ini.
”Seminggu yang lalu, saya tidak pernah bisa membayangkan saya tidur di jalan-jalan Istanbul,” kata Aleyna, 22, seorang demonstran yang berselimut dan menunjukan pakaian kotornya. ”Sekarang saya tidak tahu bagaimana saya bisa kembali,” katanya lagi, dikutip AFP.
Erdogan pada Jumat, dengan agresif menyerukan agar protes massa anti-pemerintah dihentikan. Dia menyebut, demokrasi yang ditunjukkan para demonstran sudah berubah jadi aksi vandalisme.
Polisi juga mulai kesulitan untuk menindak tegas para demonstran yang memprotes pembongkaran Taman Gezi, setelah mendapat sorotan dari berbagai kalangan, termasuk Amerika Serikat.
Sebaliknya, para demonstran menilai Erdogan dan Partai Keadilan dan Partai Pembangunan (AKP) pimpinannya, sudah bertindak otoriter. Polisi Turki dapat sorotan tajam dari berbagai kalangan, tatkala menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran.
Tiga orang tewas dan ribuan lainnya terluka selama protes yang mencoreng citra Turki sebagai model demokrasi Islam. Menghadapi kecaman internasional atas penanganan demonstran, Erdogan pada Jumat justru menuduh sekutu Barat menerapkan standar ganda dalam menilai demokrasi di Turki.
Ia menyebut, aksi massa di Turki telah dimanipulasi oleh kaum ekstrimis. Erdogan mengklaim, selama ini sudah melunak. ”Saya terbuka kepada siapa pun yang menuntut demokrasi,” ujarnya.
(esn)