Suu Kyi berniat jadi Presiden Myanmar
Kamis, 06 Juni 2013 - 23:57 WIB
Suu Kyi berniat jadi Presiden Myanmar
A
A
A
Sindonews.com – Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi, pada Kamis (6/6/2013), menyatakan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden negara itu. Ia menyerukan pada semua rakyat Myanmar untuk berbagi buah manis dari reformasi yang berlangsung di Myanmar.
"Saya ingin mencalonkan diri sebagai presiden dan saya cukup jujur tentang hal itu," kata Suu Kyi saat menghadiri World Economic Forum (WEF) on East Asia di Ibu Kota Myanmar, Naypyidaw. Pemenang Nobel Perdamaian itu juga menyerukan amandemen konstitusi militer, hal yang mencegah dia dari kesempatan memimpin negara.
Suu Kyi berencana maju sebagai presiden pada pemilu 2015 mendatang. "Jika saya berpura-pura bahwa saya tidak ingin menjadi presiden, saya tidak akan jujur," tambahnya. Namun, langkah ini masih bisa terganjal konstitusi yang berlaku di Myanmar
Konstitusi menyatakan, siapa saja yang pasangan atau anak-anak warga negara di luar negeri, tak bisa mencalonkan diri dalam pilpres. Suu Kyi memiliki dua anak dari almarhum suaminya yang berkebangsaan Inggris, Michael Aris.
Mengubah bagian-bagian tertentu dari teks konstitusi memerlukan dukungan lebih dari 75 persen anggota parlemen. "Konstitusi ini dikatakan oleh para ahli sebagai konstitusi yang paling sulit di dunia untuk diubah. Jadi, kita harus mulai dengan mengubah persyaratan untuk perubahan," kata Suu Kyi.
"Saya ingin mencalonkan diri sebagai presiden dan saya cukup jujur tentang hal itu," kata Suu Kyi saat menghadiri World Economic Forum (WEF) on East Asia di Ibu Kota Myanmar, Naypyidaw. Pemenang Nobel Perdamaian itu juga menyerukan amandemen konstitusi militer, hal yang mencegah dia dari kesempatan memimpin negara.
Suu Kyi berencana maju sebagai presiden pada pemilu 2015 mendatang. "Jika saya berpura-pura bahwa saya tidak ingin menjadi presiden, saya tidak akan jujur," tambahnya. Namun, langkah ini masih bisa terganjal konstitusi yang berlaku di Myanmar
Konstitusi menyatakan, siapa saja yang pasangan atau anak-anak warga negara di luar negeri, tak bisa mencalonkan diri dalam pilpres. Suu Kyi memiliki dua anak dari almarhum suaminya yang berkebangsaan Inggris, Michael Aris.
Mengubah bagian-bagian tertentu dari teks konstitusi memerlukan dukungan lebih dari 75 persen anggota parlemen. "Konstitusi ini dikatakan oleh para ahli sebagai konstitusi yang paling sulit di dunia untuk diubah. Jadi, kita harus mulai dengan mengubah persyaratan untuk perubahan," kata Suu Kyi.
(esn)