Rusia khawatir al-Qaeda menjadikan Suriah sebagai markas
Jum'at, 12 April 2013 - 18:13 WIB
Rusia khawatir al-Qaeda menjadikan Suriah sebagai markas
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan khawatir dengan perkembangan al-Qaeda di Suriah. Mereka takut kelompok teroris internasional tersebut berusaha menjadikan Suriah sebagai negara markas mereka untuk melancarkan serangan di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut merupakan tanggapan atas pengumuman yang dilontarkan oleh pemimpin afliliasi al-Qaeda Irak, Abu Bakr al-Baghdadi. Dikatakannya, bahwa al-Qaeda telah membantu perjuangan front al-Nusra (salah stau kelompok pemberontak Suriah) dalam melancarkan serangan terhadap rezim Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
"Rusia dengan kuat dan tegas mengutuk segala bentuk kegiatan terorisme," kata pernyataan yang dirilis Kemenlu Rusia, Kamis (11/4/2013). "Dan, kami sangat khawatir jika konflik tersebut akhirnya merembet ke negara tetangga, Libanon," lanjut isi rilis tersebut.
Direktur Badan Pengawasan Narkotika Rusia, Viktor Ivanov mengatakan, sebanyak 20 ribu tentara bayaran asing yang bertempur melawan militer Suriah dibiayai dari hasil penjualan narkotika. Sayangnya, Ivanov tidak membeberkan bukti lebih lanjut yang memperkuat laporannya.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Alexander Lukashevich mengatakan, Suriah hari ini telah berubah menjadi sebuah tempat yang sangat menarik perhatian bagi kelompok teroris internasional. Hal itu merupakan kelanjutan atas perang antara militer dan pemberontak Suriah yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
Pernyataan tersebut merupakan tanggapan atas pengumuman yang dilontarkan oleh pemimpin afliliasi al-Qaeda Irak, Abu Bakr al-Baghdadi. Dikatakannya, bahwa al-Qaeda telah membantu perjuangan front al-Nusra (salah stau kelompok pemberontak Suriah) dalam melancarkan serangan terhadap rezim Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
"Rusia dengan kuat dan tegas mengutuk segala bentuk kegiatan terorisme," kata pernyataan yang dirilis Kemenlu Rusia, Kamis (11/4/2013). "Dan, kami sangat khawatir jika konflik tersebut akhirnya merembet ke negara tetangga, Libanon," lanjut isi rilis tersebut.
Direktur Badan Pengawasan Narkotika Rusia, Viktor Ivanov mengatakan, sebanyak 20 ribu tentara bayaran asing yang bertempur melawan militer Suriah dibiayai dari hasil penjualan narkotika. Sayangnya, Ivanov tidak membeberkan bukti lebih lanjut yang memperkuat laporannya.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Alexander Lukashevich mengatakan, Suriah hari ini telah berubah menjadi sebuah tempat yang sangat menarik perhatian bagi kelompok teroris internasional. Hal itu merupakan kelanjutan atas perang antara militer dan pemberontak Suriah yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
(esn)