Presiden Myanmar: Penggunaan kekuatan adalah upaya terakhir
Jum'at, 29 Maret 2013 - 20:52 WIB
Presiden Myanmar: Penggunaan kekuatan adalah upaya terakhir
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Myanmar U Thein Sein menyatakan, bahwa penggunaan kekuatan (militer) adalah upaya terakhir untuk menekan kerusuhan yang terjadi di negara itu dan untuk melindungi kehidupan masyarakat.
"Secara umum, saya tidak mendukung penggunaan kekuatan untuk memecahkan masalah. Namun, saya tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan sebagai upaya terakhir untuk melindungi nyawa dan melindungi milik masyarakat umum," kata Sein dalam pidato khusus, Kamis (28/3/2013), seperti dikutip dari Xinhua.
Dalam beberapa pekan terakhir ini, di beberapa wilayah di Myanmar, telah terjadi bentrokan antara umat Budha dan Muslim. Kerusuhan bermula di Meikhtila dan dengan cepat menyebar ke beberapa tempat lain.
"Kami tidak ingin segera menggunakan kekuatan, karena kita tidak ingin membahayakan setiap peluang kemungkinan transisi demokrasi yang sedang berlangsung dan upaya reformasi," lanjutnya.
Sein menekankan, bahwa pemerintah secara tegas berkomitmen untuk menggunakan kekuasaan yang diberikan oleh konstitusi untuk mengerahkan pasukan keamanan dan untuk melindungi kehidupan, kebebasan, dan keamanan warga negara dengan kerangka hukum yang ada.
Sein mendesak warga Myanmar untuk saling bekerja sama atas dasar kasih sayang, toleransi, keterbukaan pikiran, dan empati. Sein juga meminta kepolisian untuk melakukan tugas mereka dengan tegas dan berani.
Dia menyatakan kesedihan, bahwa sengketa pribadi yang sederhana bisa menyebabkan kekerasan mematikan. “Dan, penghasut berusaha memanfaatkan situasi ini untuk membangkitkan kekerasan di negara bagian lain,” lanjut Sein.
"Secara umum, saya tidak mendukung penggunaan kekuatan untuk memecahkan masalah. Namun, saya tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan sebagai upaya terakhir untuk melindungi nyawa dan melindungi milik masyarakat umum," kata Sein dalam pidato khusus, Kamis (28/3/2013), seperti dikutip dari Xinhua.
Dalam beberapa pekan terakhir ini, di beberapa wilayah di Myanmar, telah terjadi bentrokan antara umat Budha dan Muslim. Kerusuhan bermula di Meikhtila dan dengan cepat menyebar ke beberapa tempat lain.
"Kami tidak ingin segera menggunakan kekuatan, karena kita tidak ingin membahayakan setiap peluang kemungkinan transisi demokrasi yang sedang berlangsung dan upaya reformasi," lanjutnya.
Sein menekankan, bahwa pemerintah secara tegas berkomitmen untuk menggunakan kekuasaan yang diberikan oleh konstitusi untuk mengerahkan pasukan keamanan dan untuk melindungi kehidupan, kebebasan, dan keamanan warga negara dengan kerangka hukum yang ada.
Sein mendesak warga Myanmar untuk saling bekerja sama atas dasar kasih sayang, toleransi, keterbukaan pikiran, dan empati. Sein juga meminta kepolisian untuk melakukan tugas mereka dengan tegas dan berani.
Dia menyatakan kesedihan, bahwa sengketa pribadi yang sederhana bisa menyebabkan kekerasan mematikan. “Dan, penghasut berusaha memanfaatkan situasi ini untuk membangkitkan kekerasan di negara bagian lain,” lanjut Sein.
(esn)