AS larang warganya terbang ke Myanmar

Selasa, 26 Maret 2013 - 20:28 WIB
AS larang warganya terbang...
AS larang warganya terbang ke Myanmar
A A A
Sindonews.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperingatkan warganya agar tidak melakukan kunjungan ke beberapa wilayah di Myanmar, Selasa (25/3/2013). Peringatan tersebut disampaikan, menyusul gelombang kekerasan antara antara umat Budha dan Muslim di beberapa wilayah, serta telah meluas hingga ke dekat Ibu Kota Myanmar, Yangon.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh situs Kedutaan AS di Yangon, dikabarkan bahwa kerusuhan yang terjadi telah membuat ketakutan pada banyak pihak. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi warga AS untuk menghindari perjalanan ke Daerah Pasar Mingalar/Plaza Yuzana yang terletak di Yangon guna menghindari resiko kekerasan.

Polisi Yangon mengatakan, bentrok antara umat Budha dan umat muslim kembali terjadi kemarin malam di wilayah Bago, sebelah utara Ibu Kota Yangon. "Sepanjang malam, polisi dan tentara harus berjuang mengendalikan bentrok yang terjadi di Bago. Di sana, dua buah masjid dan puluhan rumah hancur dibakar massa," terang polisi Myanmar.

Tidak ada korban tewas dalam bentrok terbaru itu, tapi hingga kini pasukan keamanan masih melakukan pengawasan terhadap wilayah yang letaknya sangat dekat dengan pemukiman komunitas muslim. "Polisi di setiap kota telah diinstruksikan untuk selalu ekstra waspada mengantisipasi jika sampai terjadi sesuatu," ungkap seorang polisi Myanmar kepada AFP.

Kerusuhan di Meikhtila yang terletak 540 km sebelah utara Yangon itu bermula dari perselisihan antara beberapa umat Budha dengan seorang Muslim pemilik toko emas. “Perselisihan itumeningkat menjadi kerusuhan yang melibatkan ratusan orang,” kata polisi Myanmar.

Hingga kini tercatata sudah 40 warga Myanmar tewas akibat bentrok. Menyusul bentrokan antara kaum Muslim dan umat Budha di wilayah itu, Pemerintah Myanmar telah memberlakukan jam malam.

Kemarin, pemerintah Myanmar menyerukan agar semua pihak yang bertikai untuk mengakhiri kekerasan atas nama agama. Sebab, upaya tersebut dapat menggagalkan proses reformasi yang sedang berlangsung di negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Budha itu.
(esn)
Berita Terkait
266 Saham Terkulai,...
266 Saham Terkulai, IHSG Ditutup Anjlok 32,47 poin ke 6.277
IHSG Sulit Tembus Level...
IHSG Sulit Tembus Level 6.400, Ini Penyebabnya
233 Saham Melemah, IHSG...
233 Saham Melemah, IHSG Ditutup Turun ke Level 6.324
Terkoreksi Lagi, IHSG...
Terkoreksi Lagi, IHSG Ditutup Turun 14,56 Poin ke Level 6.309
Ada Potensi Koreksi,...
Ada Potensi Koreksi, IHSG Diprediksi Kembali Melemah Hari Ini
IHSG Diprediksi Bertaji,...
IHSG Diprediksi Bertaji, Pantau 6 Saham Ini
Berita Terkini
Israel Bunuh 3 Tentara...
Israel Bunuh 3 Tentara Lebanon, Presiden Aoun Murka
16 menit yang lalu
AS Curigai Zionis, Pentagon...
AS Curigai Zionis, Pentagon Naikkan Tingkat Ancaman Spionase Israel Jadi Kritis
1 jam yang lalu
Paus Leo Tegaskan Kriteria...
Paus Leo Tegaskan Kriteria untuk Perang yang Adil Tidak Ada dalam Serangan AS-Israel di Iran
2 jam yang lalu
Iran Peringatkan Serangan...
Iran Peringatkan Serangan AS Berisiko Seret Timur Tengah Kembali ke Konflik
4 jam yang lalu
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
5 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
6 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved