Korsel minta Korut tinggalkan nuklir demi bertahan hidup
Selasa, 26 Maret 2013 - 19:29 WIB
Korsel minta Korut tinggalkan nuklir demi bertahan hidup
A
A
A
Sindonews.com- Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-hye memperingatkan Korea Utara (Korut), bahwa satu-satunya jalan bagi Korut untuk bertahan hidup adalah dengan meninggalkan program nuklir dan rudalnya. Peringatan tersebut disampaikan di sela-sela peringataan tiga tahun tenggelamnya kapal Cheonan, milik Angkatan Laut Korsel yang diyakini akibat ulah kapal selam Korut, Selasa (26/3/2013).
"Korut harus mengubah arah kebijakan mereka untuk menurunkan tingkat ketegangan militer yang kian meningkat di Semenanjung Korea," ucap Geun-hye. "Bagi Korut, satu-satunya jalan agar tetap bertahan hidup adalah berhenti melakukan provokasi dan ancaman.
Tidak hanya itu, Korut juga harus meninggalkan pengembangan senjata nuklir dan rudal, serta menjadi bagian dari masyarakat internasional yang bertanggung jawab," terang Geum-hye.
Geun-hye juga mengatakan, Korut telah menjadi ancaman keamanan nasional Korsel. Pernyataan ini merujuk pada keberhasilan Korut melakukan uji coba rudal balistik pada Desember dan uji coba nuklir bawah tanah ketiga pada Februari lalu.
Keputusan Korut menjadi penghalang bagi Geun-hye untuk merealisasikan janjinya selama masa kampanye Presiden Korsel. Saat itu, dia bertekad untuk menciptakan hubungan bilateral lebih mendalam dengan Korut.
Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir, Pemimpin Korut Kim Jong-un telah menghabiskan waktunya untuk memantau kesiapan pasukan Korut di garis terdepan. Jong-un memantau latihan serangan mengunakan artileri, menanggapi serangan drone, bahkan membuat sebuah pidato inflamasi untuk memusnahkan musuh.
Tidak sampai di situ, pada malam peringatakan tenggelamnya Cheonan, Jong-un bahkan melakukan pemantauan latihan AL bersama untuk mengusir kapal amfibi di sepanjang pantai timur Korut.
"Dia menekankan perlunya menghancurkan musuh di wilayah perairan, bahkan sampai pria terakhir dan mengirim mereka semua ke dasar laut, seperti serigala yang lari karena takut api," lapor kantor berita Korut, KCNA, mengutip ungkapan Jong-un.
"Korut harus mengubah arah kebijakan mereka untuk menurunkan tingkat ketegangan militer yang kian meningkat di Semenanjung Korea," ucap Geun-hye. "Bagi Korut, satu-satunya jalan agar tetap bertahan hidup adalah berhenti melakukan provokasi dan ancaman.
Tidak hanya itu, Korut juga harus meninggalkan pengembangan senjata nuklir dan rudal, serta menjadi bagian dari masyarakat internasional yang bertanggung jawab," terang Geum-hye.
Geun-hye juga mengatakan, Korut telah menjadi ancaman keamanan nasional Korsel. Pernyataan ini merujuk pada keberhasilan Korut melakukan uji coba rudal balistik pada Desember dan uji coba nuklir bawah tanah ketiga pada Februari lalu.
Keputusan Korut menjadi penghalang bagi Geun-hye untuk merealisasikan janjinya selama masa kampanye Presiden Korsel. Saat itu, dia bertekad untuk menciptakan hubungan bilateral lebih mendalam dengan Korut.
Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir, Pemimpin Korut Kim Jong-un telah menghabiskan waktunya untuk memantau kesiapan pasukan Korut di garis terdepan. Jong-un memantau latihan serangan mengunakan artileri, menanggapi serangan drone, bahkan membuat sebuah pidato inflamasi untuk memusnahkan musuh.
Tidak sampai di situ, pada malam peringatakan tenggelamnya Cheonan, Jong-un bahkan melakukan pemantauan latihan AL bersama untuk mengusir kapal amfibi di sepanjang pantai timur Korut.
"Dia menekankan perlunya menghancurkan musuh di wilayah perairan, bahkan sampai pria terakhir dan mengirim mereka semua ke dasar laut, seperti serigala yang lari karena takut api," lapor kantor berita Korut, KCNA, mengutip ungkapan Jong-un.
(esn)