Rusia sambut keinginan Korut untuk kembali ke meja perundingan
Jum'at, 24 Mei 2013 - 22:57 WIB
Rusia sambut keinginan Korut untuk kembali ke meja perundingan
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia menyambut baik keinginan Korea Utara (Korut) untuk kembali ke meja perundingan guna membahas masalah nuklir di Semenanjung Korea. Demikian dilaporkan kantor berita Interfax, Jumat (24/5/2013).
"Pyongyang memberikan tanda positif bagi kesiapannya untuk kembali ke meja perundingan, setelah beberapa pekan muncul ancaman nuklir, perintah untuk mempersiapkan serangan rudal, dan retorika agresif lainnya," kata utusan khusus Kementerian Luar Negeri Rusia, Grigory Logvinov.
Sebelumnya, Choe Ryong-hae utusan khusus Pemimpin Korut Kim Jong-un mengatakan, Pyongyang siap untuk bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengatasi masalah yang relevan melalui dialog dan konsultasi, termasuk enam partai pembicaraan.
Ryong-hae mengatakan selama kunjungannya ke China, bahwa Korut bersedia untuk mengadopsi langkah aktif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.
Pembicaraan enam pihak, yang diikuti oleh Korut, Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Jepang, dan Rusia diluncurkan pada 2003, tetapi terhenti pada Desember 2008. Korut sendiri meninggalkan perundingan ini pada April 2009.
"Pyongyang memberikan tanda positif bagi kesiapannya untuk kembali ke meja perundingan, setelah beberapa pekan muncul ancaman nuklir, perintah untuk mempersiapkan serangan rudal, dan retorika agresif lainnya," kata utusan khusus Kementerian Luar Negeri Rusia, Grigory Logvinov.
Sebelumnya, Choe Ryong-hae utusan khusus Pemimpin Korut Kim Jong-un mengatakan, Pyongyang siap untuk bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengatasi masalah yang relevan melalui dialog dan konsultasi, termasuk enam partai pembicaraan.
Ryong-hae mengatakan selama kunjungannya ke China, bahwa Korut bersedia untuk mengadopsi langkah aktif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.
Pembicaraan enam pihak, yang diikuti oleh Korut, Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Jepang, dan Rusia diluncurkan pada 2003, tetapi terhenti pada Desember 2008. Korut sendiri meninggalkan perundingan ini pada April 2009.
(esn)