Pasca ancaman Korut, Presiden Korsel pastikan keamanan negara
Rabu, 13 Maret 2013 - 21:48 WIB
Pasca ancaman Korut, Presiden Korsel pastikan keamanan negara
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-hye menegaskan, bahwa dirinya akan mempertahankan keamanan negara dalam menghadapi ancaman militer yang dilayangkan Korea Utara (Korut). Demikian disampaikan Geun-hye, Rabu (13/3/2013), seperti dikutip dari kantor berita Yonhap.
"Tidak peduli apa pengorbanan yang diperlukan, saya akan pastikan untuk membuat Republik Korea dan rakyatnya dalam situasi aman," tegas Geun-hye. Pernyataan ini dilontarkan Geun-Hye, setelah Korut mengancam akan mengambil tindakan militer, terkait latihan perang bersama yang dilakukan Korsel dan Amerika Serikat selama dua bulan di wilayah Korsel.
Selain latihan perang bersama itu, ada hal lain yang juga membuat Korut meradang, yakni sanksi baru yang dijatuhkan Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB menjatuhkan sanksi lantara Korut melakukan uji coba nuklir ketiga mereka pada 12 Februari silam.
Meski mengaku siap menghadapi tindakan militer Korut, tapi Geun-hye mengaku tetap mau menempuh cara damai untuk menjalin komunikasi dengan Korut.
"Tapi kalau Korea Utara mencari perubahan, (Korea Selatan) akan melakukan upaya untuk memberikan dukungan kepada negara miskin," kata Geun-Hye dalam pidato selama pertemuan makan siang dengan para pejabat Korsel.
Hingga kini Korsel dan Korut masih dalam status perang, setelah keduanya hanya menjalin kesepakatan gencatan senjata usai Perang Korea pada 1950-1953 silam. Karena latihan perang Korsel dan AS pula, Korut mengancam akan menghentikan perjanjian gencatan senjata ini.
"Tidak peduli apa pengorbanan yang diperlukan, saya akan pastikan untuk membuat Republik Korea dan rakyatnya dalam situasi aman," tegas Geun-hye. Pernyataan ini dilontarkan Geun-Hye, setelah Korut mengancam akan mengambil tindakan militer, terkait latihan perang bersama yang dilakukan Korsel dan Amerika Serikat selama dua bulan di wilayah Korsel.
Selain latihan perang bersama itu, ada hal lain yang juga membuat Korut meradang, yakni sanksi baru yang dijatuhkan Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB menjatuhkan sanksi lantara Korut melakukan uji coba nuklir ketiga mereka pada 12 Februari silam.
Meski mengaku siap menghadapi tindakan militer Korut, tapi Geun-hye mengaku tetap mau menempuh cara damai untuk menjalin komunikasi dengan Korut.
"Tapi kalau Korea Utara mencari perubahan, (Korea Selatan) akan melakukan upaya untuk memberikan dukungan kepada negara miskin," kata Geun-Hye dalam pidato selama pertemuan makan siang dengan para pejabat Korsel.
Hingga kini Korsel dan Korut masih dalam status perang, setelah keduanya hanya menjalin kesepakatan gencatan senjata usai Perang Korea pada 1950-1953 silam. Karena latihan perang Korsel dan AS pula, Korut mengancam akan menghentikan perjanjian gencatan senjata ini.
(esn)