Sekjen PBB: Ancaman Korut tak bisa diterima
Minggu, 10 Maret 2013 - 08:00 WIB
Sekjen PBB: Ancaman Korut tak bisa diterima
A
A
A
Sindonews.com - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan, uji coba nuklir ketiga yang dilakukan Korea Utara (Korut) dan ancaman serangan nuklir yang dilontarkan negara komunis itu, sepenuhnya tidak dapat diterima.
“Saya menyatakan hal ini benar-benar tidak dapat diterima dan juga merupakan tantangan bagi masyarakat internasional,” kata Ki-moon, Sabtu (9/3/2013), seperti dikutip dari Reuters. Ia mendesak pemimpin Korut untuk fokus pada kesejahteraan warga Korut yang saat ini menghadapi masalah-masalah ekonomi yang serius.
"Ada krisis kemanusiaan yang serius di Korea Utara. Banyak orang menderita gizi buruk," kata Ki-moon. Mantan Menlu Korea Selatan (Korsel) ini juga mendesak Korut untuk tetap menjaga perdamaian dengan Korsel.
"Korsel baru saja memilih presiden baru. Itu akan menjadi momen yang baik untuk kepemimpinan kedua belah pihak guna membahas secara serius soal mendorong tercapainya rekonsiliasi nasional dan untuk mengurangi ketegangan di semenanjung Korea,” jelas Ki-moon.
Setelah PBB menjatuhi sanksi baru pada Korut, negara itu langsung melontarkan ancaman akan melakukan serangan nuklir pendahuluan ke Amerika Serikat (AS). Korut menganggap AS memicu perang nuklir, dengan melakukan latihan perang selama dua bulan di wilayah Korsel.
Korut menuduh AS menggunakan latihan militer di Korea Selatan (Korsel) sebagai landasan untuk perang nuklir. Korut juga menyatakan, gencatan senjata dengan Washington yang terjalin usai perang Korea 1950-1953 akan berakhir.
“Saya menyatakan hal ini benar-benar tidak dapat diterima dan juga merupakan tantangan bagi masyarakat internasional,” kata Ki-moon, Sabtu (9/3/2013), seperti dikutip dari Reuters. Ia mendesak pemimpin Korut untuk fokus pada kesejahteraan warga Korut yang saat ini menghadapi masalah-masalah ekonomi yang serius.
"Ada krisis kemanusiaan yang serius di Korea Utara. Banyak orang menderita gizi buruk," kata Ki-moon. Mantan Menlu Korea Selatan (Korsel) ini juga mendesak Korut untuk tetap menjaga perdamaian dengan Korsel.
"Korsel baru saja memilih presiden baru. Itu akan menjadi momen yang baik untuk kepemimpinan kedua belah pihak guna membahas secara serius soal mendorong tercapainya rekonsiliasi nasional dan untuk mengurangi ketegangan di semenanjung Korea,” jelas Ki-moon.
Setelah PBB menjatuhi sanksi baru pada Korut, negara itu langsung melontarkan ancaman akan melakukan serangan nuklir pendahuluan ke Amerika Serikat (AS). Korut menganggap AS memicu perang nuklir, dengan melakukan latihan perang selama dua bulan di wilayah Korsel.
Korut menuduh AS menggunakan latihan militer di Korea Selatan (Korsel) sebagai landasan untuk perang nuklir. Korut juga menyatakan, gencatan senjata dengan Washington yang terjalin usai perang Korea 1950-1953 akan berakhir.
(esn)