Militer Suriah tingkatkan serangan di pusat Kota Homs
Jum'at, 25 Januari 2013 - 22:02 WIB
Militer Suriah tingkatkan serangan di pusat Kota Homs
A
A
A
Sindonews.com – Militer Suriah dilaporkan telah meningkatkan serangan di pusat Kota Homs, yang merupakan basis pemberontak Sunni. Demikian dilaporkan sumber-sumber kaum oposisi, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (25/1/2013).
“Pasukan darat pemerintah dan milisi yang loyal pada Presiden Bashar al-Assad mencoba untuk mengamankan persimpangan jalan utama. Hal ini dilakukan untuk melancarkan perjalanan tentara pemerintah antara Damaskus dan pantai Mediterania,” ujar sumber oposisi di Homs.
Menurut sumber itu, sekitar 15 ribu warga sipil Sunni terjebak di selatan dan barat pinggir kota, dekat persimpangan jalur utama utara-selatan Suriah. Pemberontak mengatakan, mereka telah pindah ke daerah baru di Kota Homs pada bulan ini. Hal ini dilakukan untuk menguasai lebih banyak wilayah.
Para aktivis mengatakan, kaum pemberontak telah meminta mereka untuk tidak melaporkan kemajuan ini, sebab bisa memicu serangan balasan dari pihak militer pemerintah. Para aktivis juga melaporkan, bahwa rentetan artileri roket dan pemboman udara yang dilakukan militer Suriah telah menewaskan sedikitnya 120 warga sipil dan 30 pejuang oposisi, sejak akhir pekan lalu.
Sementara itu, di wilayah selatan, delapan anggota intelijen militer Suriah tewas oleh bom mobil yang dipasang oleh kaum oposisi, Kamis 24 Januari. Ledakan ini terjadi di dekat Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, bom itu ditanam oleh Al-Nusra, unit pemberontak garis depan yang dicap Amerika Serikat sebagai kelompok teroris.
"Kami pikir ledakan itu mungkin membunuh seorang kolonel yang telah memimpin perang melawan pemberontak di daerah tersebut," ujar Rami Abdelrahman, Kepala Observatorium yang berbasis di Inggris itu.
“Pasukan darat pemerintah dan milisi yang loyal pada Presiden Bashar al-Assad mencoba untuk mengamankan persimpangan jalan utama. Hal ini dilakukan untuk melancarkan perjalanan tentara pemerintah antara Damaskus dan pantai Mediterania,” ujar sumber oposisi di Homs.
Menurut sumber itu, sekitar 15 ribu warga sipil Sunni terjebak di selatan dan barat pinggir kota, dekat persimpangan jalur utama utara-selatan Suriah. Pemberontak mengatakan, mereka telah pindah ke daerah baru di Kota Homs pada bulan ini. Hal ini dilakukan untuk menguasai lebih banyak wilayah.
Para aktivis mengatakan, kaum pemberontak telah meminta mereka untuk tidak melaporkan kemajuan ini, sebab bisa memicu serangan balasan dari pihak militer pemerintah. Para aktivis juga melaporkan, bahwa rentetan artileri roket dan pemboman udara yang dilakukan militer Suriah telah menewaskan sedikitnya 120 warga sipil dan 30 pejuang oposisi, sejak akhir pekan lalu.
Sementara itu, di wilayah selatan, delapan anggota intelijen militer Suriah tewas oleh bom mobil yang dipasang oleh kaum oposisi, Kamis 24 Januari. Ledakan ini terjadi di dekat Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, bom itu ditanam oleh Al-Nusra, unit pemberontak garis depan yang dicap Amerika Serikat sebagai kelompok teroris.
"Kami pikir ledakan itu mungkin membunuh seorang kolonel yang telah memimpin perang melawan pemberontak di daerah tersebut," ujar Rami Abdelrahman, Kepala Observatorium yang berbasis di Inggris itu.
(esn)