Hamas diharap mau bergabung dengan PLO
Kamis, 27 Desember 2012 - 19:38 WIB
Hamas diharap mau bergabung dengan PLO
A
A
A
Sindonews.com – Sejak peningkatan status Palestina di PBB dan berakhirnya pertikaian 8 hari dengan militer Israel, semangat persatuan di antara faksi-faksi Palestina kian kencang didengungkan. Dua faksi terbesar di Palestina, Hamas dan Fatah telah sepakat untuk menyingkirkan perbedaan dan bersatu demi mencapai kemerdekaan abadi bangsa Palestina.
Pembicaraan antara Hamas dan Fatah sudah dimotori oleh Mesir. Namun, mengingat kondisi dalam negeri Mesir masih belum stabil, hingga kini belum didapat tanggal pasti pertemuan antara petinggi Hamas dan Fatah.
"Akan ada pertemuan, tapi kami tidak tahu kapan persisnya," ujar Nabil Shaath, seorang pemimpin Fatah yang terlibat dalam upaya rekonsiliasi, Kamis (27/12/2012). "Mesir sangat berkomitmen untuk ini (pembicaraan rekonsiliasi), tetapi kami mempertimbangkan situasi internal di Mesir," lanjut Shaath.
"Dari sisi kami, prioritasnya adalah untuk mengakhiri konflik, prioritas adalah untuk mengakhiri perpecahan, tidak hanya untuk membawa Hamas ke dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)," kata seorang pejabat Fatah lainnya, Mohammad Shtayyeh, seperti dikutip dari The Daily Star.
"PLO selalu terbuka untuk keanggotaan Hamas atau siapapun, tapi PLO memiliki platform politik. Dan, jika platform politik itu dapat diterima oleh Hamas dan Jihad Islam, mereka berdua dipersilakan untuk menjadi anggota," tambah Shtayyeh.
Platform politik PLO termasuk pengakuan Israel dan penandatanganan kesepakatan damai, sikap yang telah ditolak oleh Hamas dan Jihad Islam. Dua poin ini diprediksi bisa menjadi batu sandungan keduanya untuk masuk ke PLO.
Shtayyeh menekankan, bahwa PLO mewakili Palestina di mana-mana sejak 1960. Organisasi ini diakui sebagai satu-satunya wakil sah rakyat Palestina dan terlibat dalam kegiatan atas nama mereka di panggung internasional, termasuk negosiasi dan bergerak di PBB.
"Kami pergi ke PBB bukan sebagai Otoritas Palestina," kata Shtayyeh, mengacu pada pemerintah Tepi Barat yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas. "Kami pergi ke PBB sebagai Organisasi Pembebasan Palestina, yang merupakan wakil dari seluruh rakyat Palestina, wakil sah satu-satunya,” tegas Shtayyeh.
Pembicaraan antara Hamas dan Fatah sudah dimotori oleh Mesir. Namun, mengingat kondisi dalam negeri Mesir masih belum stabil, hingga kini belum didapat tanggal pasti pertemuan antara petinggi Hamas dan Fatah.
"Akan ada pertemuan, tapi kami tidak tahu kapan persisnya," ujar Nabil Shaath, seorang pemimpin Fatah yang terlibat dalam upaya rekonsiliasi, Kamis (27/12/2012). "Mesir sangat berkomitmen untuk ini (pembicaraan rekonsiliasi), tetapi kami mempertimbangkan situasi internal di Mesir," lanjut Shaath.
"Dari sisi kami, prioritasnya adalah untuk mengakhiri konflik, prioritas adalah untuk mengakhiri perpecahan, tidak hanya untuk membawa Hamas ke dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)," kata seorang pejabat Fatah lainnya, Mohammad Shtayyeh, seperti dikutip dari The Daily Star.
"PLO selalu terbuka untuk keanggotaan Hamas atau siapapun, tapi PLO memiliki platform politik. Dan, jika platform politik itu dapat diterima oleh Hamas dan Jihad Islam, mereka berdua dipersilakan untuk menjadi anggota," tambah Shtayyeh.
Platform politik PLO termasuk pengakuan Israel dan penandatanganan kesepakatan damai, sikap yang telah ditolak oleh Hamas dan Jihad Islam. Dua poin ini diprediksi bisa menjadi batu sandungan keduanya untuk masuk ke PLO.
Shtayyeh menekankan, bahwa PLO mewakili Palestina di mana-mana sejak 1960. Organisasi ini diakui sebagai satu-satunya wakil sah rakyat Palestina dan terlibat dalam kegiatan atas nama mereka di panggung internasional, termasuk negosiasi dan bergerak di PBB.
"Kami pergi ke PBB bukan sebagai Otoritas Palestina," kata Shtayyeh, mengacu pada pemerintah Tepi Barat yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas. "Kami pergi ke PBB sebagai Organisasi Pembebasan Palestina, yang merupakan wakil dari seluruh rakyat Palestina, wakil sah satu-satunya,” tegas Shtayyeh.
(esn)