Rusia tolak bujuk Assad mundur
Minggu, 23 Desember 2012 - 13:59 WIB
Rusia tolak bujuk Assad mundur
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyatakan keengganan mereka untuk memenuhi permintaan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah untuk membujuk Assad pergi atau memberikan dia sebuah tempat berlindung yang aman.
Dalam perjalanan dari Moskow menuju KTT Uni Eropa di Brussels, Lavrov mengaku pemerintah Rusia telah mendapat permintaan dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah soal hal itu. Namun, menurut Rusia langkah itu mungkin akan semakin meningkatkan eskalasi konflik di Suriah.
"Mengapa kami harus melakukan apa yang kalian mau. Jika itu rencana kalian silahkan reaslisasikan sendiri rencana Anda terhadap Assad," jawab Lavrov.
"Mengapa juga kami harus menjadi tukang pos. Jika presiden Assad tertarik dengan rencana tersebut rencana tersebut seharusnya dibicarakan langsung dengan Assad," imbuh Lavrov.
Levrov menambahkan, rezim pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan tetap ada. Lavrov mengaku yakin, pemerintahan Suriah tak akan berakhir meski mereka harus kehilangan dukungan dari Rusia dan China.
"Assad tidak akan pergi kemana pun. Apapun yang semua orang katakan dia akan tetap ada, meski ungkapan tersebut datang dari pemerintah China ataupun Rusia," ungkap Lavrov.
Sementara itu, negara barat telah kehilangan banyak kesempatan untuk membantu mengakhiri konflik yang terjadi di Suriah. Lavrov mengatakan pemerintah Rusia tidak akan ambil pusing mempersiapkan perubahan rezim pemerintahan di Suriah.
Seperti diketahui perang yang terjadi di Suriah telah berlangsung hampir 21 bulan. Sementara itu menurut laporan yang berhasil rangkum oleh PBB dari sejumlah aktivis pemantau hak asasi manusia, jumlah korban tewas dari pihak sipil, militer, dan pemberontak dalam 21 bulan ini telah mencapai lebih dari 40 ribu orang.
Dalam perjalanan dari Moskow menuju KTT Uni Eropa di Brussels, Lavrov mengaku pemerintah Rusia telah mendapat permintaan dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah soal hal itu. Namun, menurut Rusia langkah itu mungkin akan semakin meningkatkan eskalasi konflik di Suriah.
"Mengapa kami harus melakukan apa yang kalian mau. Jika itu rencana kalian silahkan reaslisasikan sendiri rencana Anda terhadap Assad," jawab Lavrov.
"Mengapa juga kami harus menjadi tukang pos. Jika presiden Assad tertarik dengan rencana tersebut rencana tersebut seharusnya dibicarakan langsung dengan Assad," imbuh Lavrov.
Levrov menambahkan, rezim pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan tetap ada. Lavrov mengaku yakin, pemerintahan Suriah tak akan berakhir meski mereka harus kehilangan dukungan dari Rusia dan China.
"Assad tidak akan pergi kemana pun. Apapun yang semua orang katakan dia akan tetap ada, meski ungkapan tersebut datang dari pemerintah China ataupun Rusia," ungkap Lavrov.
Sementara itu, negara barat telah kehilangan banyak kesempatan untuk membantu mengakhiri konflik yang terjadi di Suriah. Lavrov mengatakan pemerintah Rusia tidak akan ambil pusing mempersiapkan perubahan rezim pemerintahan di Suriah.
Seperti diketahui perang yang terjadi di Suriah telah berlangsung hampir 21 bulan. Sementara itu menurut laporan yang berhasil rangkum oleh PBB dari sejumlah aktivis pemantau hak asasi manusia, jumlah korban tewas dari pihak sipil, militer, dan pemberontak dalam 21 bulan ini telah mencapai lebih dari 40 ribu orang.
(esn)