Dua pekan terakhir, Iran sita 32 ton narkoba
Jum'at, 21 Desember 2012 - 16:23 WIB
Dua pekan terakhir, Iran sita 32 ton narkoba
A
A
A
Sindonews.com – Aparat keamanan Iran mengaku, dalam dua pekan terakhir mereka telah berhasil menyita lebih dari 32 ton narkoba dari berbagai jenis. Puluhan ton narkoba itu disita dalam operasi yang dilakukan di perbatasan Timur negara itu, terutama dari wilayah yang berbatasan dengan Pakistan.
“Narkoba yang disita termasuk 28 ton obat murni dan empat ton residu. Selain itu, operasi ini juga menyita 17 mobil yang digunakan dalam penyelundupan. Sejumlah penyelundup tewas dan terluka, sebagian ditangkap oleh aparat kami,” jelas Menteri Dalam Negeri Iran, Mostafa Mohammad Najjar, seperti dikutip dari kantor berita Fars, Kamis (20/12/2012).
Pernyataan ini disampaikan Najjar dalam pertemuan dengan Wakil Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Yuri Fedotov, di Teheran. Najjar menambahkan, bahwa budidaya opium di Afghanistan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Menurut UNODC, saat ini 93 persen dari opium dunia diproduksi di Afghanistan. Dari jumlah itu, 60 persen diperuntukkan bagi pasar Uni Eropa dan AS. Iran masuk dalam rute utama transit opium dari Afghanistan ini.
Iran selalu mengeluh tentang Uni Eropa dan kurangnya badan internasional lain yan melakukan kerjasama serius dengan Iran dalam kampanye melawan perdagangan narkoba dari Afghanistan. Iran menghabiskan miliaran dolar dan telah kehilangan ribuan tentara dan polisi dalam perang melawan pedagang opium.
“Narkoba yang disita termasuk 28 ton obat murni dan empat ton residu. Selain itu, operasi ini juga menyita 17 mobil yang digunakan dalam penyelundupan. Sejumlah penyelundup tewas dan terluka, sebagian ditangkap oleh aparat kami,” jelas Menteri Dalam Negeri Iran, Mostafa Mohammad Najjar, seperti dikutip dari kantor berita Fars, Kamis (20/12/2012).
Pernyataan ini disampaikan Najjar dalam pertemuan dengan Wakil Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Yuri Fedotov, di Teheran. Najjar menambahkan, bahwa budidaya opium di Afghanistan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Menurut UNODC, saat ini 93 persen dari opium dunia diproduksi di Afghanistan. Dari jumlah itu, 60 persen diperuntukkan bagi pasar Uni Eropa dan AS. Iran masuk dalam rute utama transit opium dari Afghanistan ini.
Iran selalu mengeluh tentang Uni Eropa dan kurangnya badan internasional lain yan melakukan kerjasama serius dengan Iran dalam kampanye melawan perdagangan narkoba dari Afghanistan. Iran menghabiskan miliaran dolar dan telah kehilangan ribuan tentara dan polisi dalam perang melawan pedagang opium.
(esn)