Obama didesak batasi hak kepemilikan senjata api
Rabu, 19 Desember 2012 - 08:59 WIB
Obama didesak batasi hak kepemilikan senjata api
A
A
A
Sindonews.com – Penembakan massal yang terjadi di SD Sandy Hook, di Newtown, Connecticut, akhir pekan lalu telah menimbulkan kecaman di berbagai kalangan di Amerika Serikat (AS). Banyak pihak yang meminta Presiden Barack Obama untuk membatasi hak kepemilikan senjata api di negara itu.
“Cara untuk menghormati anak-anak yang tewas dalam insiden itu adalah dengan kontrol senjata yang ketat. Selain itu juga dibutuhkan layanan pemulihan mental dan mengakhiri kekerasan sebagai kebijakan publik,” kata Michael Moore, seorang pembuat film dan aktivis pembatasan senjata api, seperti dikutip dari ahramonline, Rabu (19/12/2012).
Peristiwa penembakan masa di SD Sandy Hook yang berujung pada tewasnya 20 murid SD dan 7 orang dewasa, bukanlah kejadian kali pertama di AS. Sebelumnya sudah ada sederet peristiwa penembakan massal di sejumlah kampus, sekolah, dan tempat umum lainnya.
"Saya pikir, sudah waktunya bagi presiden untuk berdiri dan memimpin negeri ini dan katakan apa yang harus kita lakukan. Tugasnya adalah untuk melakukan dan untuk melindungi rakyat Amerika," tandas Walikota New York, Michael Bloomberg.
Obama memang belum melakukan tindakan konkrit soal pembatasan senjata, namun ia menegaskan akan mengakhiri kejadian seperti ini di kemudian hari.
"Kami tidak bisa mentolerir lagi, tragedi ini harus diakhiri. Dan, untuk mengakhirinya kita harus berubah. Apakah kita benar-benar siap untuk mengatakan bahwa kita tidak berdaya dalam menghadapi pembantaian tersebut, bahwa politik yang terlalu keras?" ujar Obama.
“Cara untuk menghormati anak-anak yang tewas dalam insiden itu adalah dengan kontrol senjata yang ketat. Selain itu juga dibutuhkan layanan pemulihan mental dan mengakhiri kekerasan sebagai kebijakan publik,” kata Michael Moore, seorang pembuat film dan aktivis pembatasan senjata api, seperti dikutip dari ahramonline, Rabu (19/12/2012).
Peristiwa penembakan masa di SD Sandy Hook yang berujung pada tewasnya 20 murid SD dan 7 orang dewasa, bukanlah kejadian kali pertama di AS. Sebelumnya sudah ada sederet peristiwa penembakan massal di sejumlah kampus, sekolah, dan tempat umum lainnya.
"Saya pikir, sudah waktunya bagi presiden untuk berdiri dan memimpin negeri ini dan katakan apa yang harus kita lakukan. Tugasnya adalah untuk melakukan dan untuk melindungi rakyat Amerika," tandas Walikota New York, Michael Bloomberg.
Obama memang belum melakukan tindakan konkrit soal pembatasan senjata, namun ia menegaskan akan mengakhiri kejadian seperti ini di kemudian hari.
"Kami tidak bisa mentolerir lagi, tragedi ini harus diakhiri. Dan, untuk mengakhirinya kita harus berubah. Apakah kita benar-benar siap untuk mengatakan bahwa kita tidak berdaya dalam menghadapi pembantaian tersebut, bahwa politik yang terlalu keras?" ujar Obama.
(esn)