Kirim kapal perang, Iran bangun pangkalan AL di Sudan?
Senin, 17 Desember 2012 - 13:18 WIB
Kirim kapal perang, Iran bangun pangkalan AL di Sudan?
A
A
A
Sindonews.com - Amir Mousavi, mantan penasihat Menteri Pertahanan Iran membantah ingin menjadikan perairan Sudan menjadi pangkalan militer Angkatan Laut (AL) Iran. Dugaan itu setelah ada kunjungan dua kapal perang Iran, Jamaran dan Bushehr, awal bulan ini ke Sudan.
"Iran tidak menandatangani perjanjian pembangunan pangkalan militer di wilayah Laut Merah, Sudan. Kedatangan dua kapal perang Iran ke pelabuhan dilakukan untuk memamerkan kekuatan AL Iran di perairan internasional," ungkap Mousavi seperti diberitakan dalam jpost, Senin (17/12/2012).
Mousavi mengakui bahwa Iran dan Sudan sudah beberapa dekade menjalin kerja sama militer. Kerja sama militer dijalin dalam berbagai tingkat seperti, pelatihan, dan pertukaran militer.
Mousavi mencatat, kedatangan AL Iran ke Sudan dilakukan untuk menunjukkan posisi Iran. "Iran akan berdiri di samping warga dan pemerintah Sudan dalam melawan agresi Israel," ungkap Mousavi.
Kunjungan kapal perang Jamaran dan Bushehr dilakukan setelah Israel melakukan serangan udara terhadap pabrik amunisi senjata Yarmouk di Ibu Kota Sudan.
"Hubungan militer antara Iran dan Sudan hanya akan berkembang sejauh kepentingan strategis. Peningkatan hubungan militer antara Iran dan Sudan seharusya dapat dijadikan sebuah pertigaan, khususnya bagi Israel dan Amerika Serikat yang terus berupaya mengisolasi wilayah tersebut," lanjut Mousavi.
Wakil dari Kementerian Luar Negeri Sudan, Rahmatallah Osman, mengatakan, pada prinsipnya Sudan tidak akan mengizinkan pihak asing mendirikan pangkalan militer di Sudan. "tidak terkecuali Iran," lanjut Osman.
Hubungan militer Iran dan Sudan berkembang sejak Iran memberikan dukungan militer terhadap Presiden Sudan Omar Bashir pada 1989. Tentara melakukan kudeta tanpa darah untuk mengulingkan pemerintah Sudan. Setelah kudeta, Iran mengirimkan pasokan senjata dan minyak, serta 2000 orang untuk melatih tentara Sudan.
"Iran tidak menandatangani perjanjian pembangunan pangkalan militer di wilayah Laut Merah, Sudan. Kedatangan dua kapal perang Iran ke pelabuhan dilakukan untuk memamerkan kekuatan AL Iran di perairan internasional," ungkap Mousavi seperti diberitakan dalam jpost, Senin (17/12/2012).
Mousavi mengakui bahwa Iran dan Sudan sudah beberapa dekade menjalin kerja sama militer. Kerja sama militer dijalin dalam berbagai tingkat seperti, pelatihan, dan pertukaran militer.
Mousavi mencatat, kedatangan AL Iran ke Sudan dilakukan untuk menunjukkan posisi Iran. "Iran akan berdiri di samping warga dan pemerintah Sudan dalam melawan agresi Israel," ungkap Mousavi.
Kunjungan kapal perang Jamaran dan Bushehr dilakukan setelah Israel melakukan serangan udara terhadap pabrik amunisi senjata Yarmouk di Ibu Kota Sudan.
"Hubungan militer antara Iran dan Sudan hanya akan berkembang sejauh kepentingan strategis. Peningkatan hubungan militer antara Iran dan Sudan seharusya dapat dijadikan sebuah pertigaan, khususnya bagi Israel dan Amerika Serikat yang terus berupaya mengisolasi wilayah tersebut," lanjut Mousavi.
Wakil dari Kementerian Luar Negeri Sudan, Rahmatallah Osman, mengatakan, pada prinsipnya Sudan tidak akan mengizinkan pihak asing mendirikan pangkalan militer di Sudan. "tidak terkecuali Iran," lanjut Osman.
Hubungan militer Iran dan Sudan berkembang sejak Iran memberikan dukungan militer terhadap Presiden Sudan Omar Bashir pada 1989. Tentara melakukan kudeta tanpa darah untuk mengulingkan pemerintah Sudan. Setelah kudeta, Iran mengirimkan pasokan senjata dan minyak, serta 2000 orang untuk melatih tentara Sudan.
(esn)