Tak ada bukti mantan Presiden Turki diracun
Jum'at, 14 Desember 2012 - 16:39 WIB
Tak ada bukti mantan Presiden Turki diracun
A
A
A
Sindonews.com – Autopsi yang dilakukan pada jenazah mantan Presiden Turki, Turgut Ozal tak menemukan bukti bahwa ia telah diracun. Meski begitu, Jaksa Turki menyatakan kalau penyelidikan akan terus dilanjutkan.
Ozal yang membawa Turki keluar dari kekuasaan militer pada 1980, diisukan meninggal akibat diracun. Meski laporan resmi menyebutkan ia meninggal karena gagal jantung pada 1993 di usia 65 tahun.
Sejumlah kalangan menyatakan, Ozal telah dibunuh oleh kaum militan dari lingkar dalam pemerintahannya sendiri. Ozal telah membuat marah beberapa pihak, karena usahanya untuk mengakhiri pemberontakan Kurdi. Ozal sempat selamat dari upaya pembunuhan pada 1988.
Kantor Kejaksaan Turki mengutip laporan forensik yang diterima pekan ini menyatakan, penyebab pasti kematian Ozal sulit untuk ditentukan. Sebab, autopsi tidak segera dilakukan setelah Ozal meninggal.
Laporan-laporan media Turki menyatakan, atas perintah jaksa, tubuh Ozal digali pada Oktober silam. Penggalian ini dilakukan untuk menyelidiki kecurigaan, mengungkapkan jejak insektisida, pestisida, dan elemen radioaktif. Namun jaksa mengatakan, tingkat racun dalam jenazah Ozal berada dalam kadar normal.
"Tingkat logam berat yang ditemui dalam autopsi Ozal, sesuai dengan orang-orang dalam populasi umum," kata pernyataan Kantor Kejaksaan Turki, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (14/12/2012). Pernyataan itu juga menyebut, bahwa tingkat pestisida dalam tubuh Ozal semasa hidup juga dalam batas normal.
Ozal yang membawa Turki keluar dari kekuasaan militer pada 1980, diisukan meninggal akibat diracun. Meski laporan resmi menyebutkan ia meninggal karena gagal jantung pada 1993 di usia 65 tahun.
Sejumlah kalangan menyatakan, Ozal telah dibunuh oleh kaum militan dari lingkar dalam pemerintahannya sendiri. Ozal telah membuat marah beberapa pihak, karena usahanya untuk mengakhiri pemberontakan Kurdi. Ozal sempat selamat dari upaya pembunuhan pada 1988.
Kantor Kejaksaan Turki mengutip laporan forensik yang diterima pekan ini menyatakan, penyebab pasti kematian Ozal sulit untuk ditentukan. Sebab, autopsi tidak segera dilakukan setelah Ozal meninggal.
Laporan-laporan media Turki menyatakan, atas perintah jaksa, tubuh Ozal digali pada Oktober silam. Penggalian ini dilakukan untuk menyelidiki kecurigaan, mengungkapkan jejak insektisida, pestisida, dan elemen radioaktif. Namun jaksa mengatakan, tingkat racun dalam jenazah Ozal berada dalam kadar normal.
"Tingkat logam berat yang ditemui dalam autopsi Ozal, sesuai dengan orang-orang dalam populasi umum," kata pernyataan Kantor Kejaksaan Turki, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (14/12/2012). Pernyataan itu juga menyebut, bahwa tingkat pestisida dalam tubuh Ozal semasa hidup juga dalam batas normal.
(esn)