Warga Suriah harus antri 3 jam untuk mendapatkan roti
Rabu, 12 Desember 2012 - 19:48 WIB
Warga Suriah harus antri 3 jam untuk mendapatkan roti
A
A
A
Sindonews.com – Perang saudara yang berlangsung selama 20 bulan terakhir, ditambah dengan datangnya musim dingin, kian menyengsarakan kehidupan masyarakat Suriah. Seolah masih belum cukup, sendi-sendi kehidupan rakyat Suriah juga kian lumpuh akibat krisis bahan bakar solar yang dialami negara itu.
Minimnya solar telah menyebabkan penutupan sebagian besar pabrik dan bengkel-bengkel kecil, serta menciptakan kekurangan stok roti nasional. Kondisi ini membuat harga roti melambung tinggi.
Beberapa warga Suriah di Provinsi Aleppo mengaku, sebongkah roti yang dulunya dihargai 15 Pound Suriah, kini harganya melonjak menjadi 250 Pound Suriah.
Selian mahal, roti pun menjadi sangat langka. Banyak warga Suriah yang telah mengantri sejak dini hari, kembali ke rumah dengan hanya membawa satu bundel roti.
"Saya datang ke sini pukul 4 pagi dengan secangkir kopi, karena saya tahu bahwa saya harus menunggu tidak kurang dari tiga jam untuk mendapatkan roti," kata Bassem Ammar, warga Damaskus, sambil berdiri di ujung deretan orang-orang di depan sebuah kios yang menjual roti yang disubsidi pemerintah.
Namun, saat ia tiba di dekat jendela kios itu, penjual mengatakan kepadanya, bahwa tidak ada lagi roti yang tersisa. "Saya akan kembali besok dan mungkin saya harus datang lebih awal," katanya.
Minimnya solar telah menyebabkan penutupan sebagian besar pabrik dan bengkel-bengkel kecil, serta menciptakan kekurangan stok roti nasional. Kondisi ini membuat harga roti melambung tinggi.
Beberapa warga Suriah di Provinsi Aleppo mengaku, sebongkah roti yang dulunya dihargai 15 Pound Suriah, kini harganya melonjak menjadi 250 Pound Suriah.
Selian mahal, roti pun menjadi sangat langka. Banyak warga Suriah yang telah mengantri sejak dini hari, kembali ke rumah dengan hanya membawa satu bundel roti.
"Saya datang ke sini pukul 4 pagi dengan secangkir kopi, karena saya tahu bahwa saya harus menunggu tidak kurang dari tiga jam untuk mendapatkan roti," kata Bassem Ammar, warga Damaskus, sambil berdiri di ujung deretan orang-orang di depan sebuah kios yang menjual roti yang disubsidi pemerintah.
Namun, saat ia tiba di dekat jendela kios itu, penjual mengatakan kepadanya, bahwa tidak ada lagi roti yang tersisa. "Saya akan kembali besok dan mungkin saya harus datang lebih awal," katanya.
(esn)