AS akan tahan dana penjualan minyak Iran
Jum'at, 07 Desember 2012 - 17:11 WIB
AS akan tahan dana penjualan minyak Iran
A
A
A
Sindonews.com – Amerika Serikat (AS) terus meningkatkan tekanan pada Iran demi bisa menghentikan program nuklir yang dikembangkan Iran. Salah Satu caranya adalah dengan menahan dana hasil penjualan minyak Iran.
Mulai 6 Februari 2013, AS akan mencegah Iran mendapatkan pembayaran atas ekspor minyak mereka. Hal ini diyakini akan membuat kondisi keuangan Iran goyah dan berimbas pada penghentian pengembangan program nuklir.
"Sebagian besar pendapatan minyak Iran akan terbelenggu dan hanya bisa digunakan untuk membeli barang dari negara pembeli minyak Iran," ujar David Cohen, ketua bidang terorisme dan intelijen Departemen Keuangan AS, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/12/2012).
Satu tahun lalu, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mengharuskan pembeli minyak Iran untuk melakukan pemotongan yang signifikan untuk pembelian minyak mereka, atau negara itu memiliki risiko terputus dari sistem keuangan AS.
Sikap AS ini seiring dengan embargo Uni Eropa (UE) pada minyak Iran. Sanksi UE ini telah memotong lebih dari 50 persen pendapatan ekspor minyak Iran. Akibat sanksi ini, uran kehilangan sekitar USD5 miliar per bulan dan menyebabkan anjloknya mata uang Iran, rial.
AS dan UE berharap, tekanan di sektor ekonomi bisa memaksa Iran memahami kekhawatiran dunia internasional atas program nuklir mereka. “Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan tekanan keuangan pada Iran selama diperlukan. Dan, kami akan terus mencari cara inovatif untuk membuat Iran menanggung harga dari keputusan yang mereka ambil,” lanjut Cohen.
Mulai 6 Februari 2013, AS akan mencegah Iran mendapatkan pembayaran atas ekspor minyak mereka. Hal ini diyakini akan membuat kondisi keuangan Iran goyah dan berimbas pada penghentian pengembangan program nuklir.
"Sebagian besar pendapatan minyak Iran akan terbelenggu dan hanya bisa digunakan untuk membeli barang dari negara pembeli minyak Iran," ujar David Cohen, ketua bidang terorisme dan intelijen Departemen Keuangan AS, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/12/2012).
Satu tahun lalu, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mengharuskan pembeli minyak Iran untuk melakukan pemotongan yang signifikan untuk pembelian minyak mereka, atau negara itu memiliki risiko terputus dari sistem keuangan AS.
Sikap AS ini seiring dengan embargo Uni Eropa (UE) pada minyak Iran. Sanksi UE ini telah memotong lebih dari 50 persen pendapatan ekspor minyak Iran. Akibat sanksi ini, uran kehilangan sekitar USD5 miliar per bulan dan menyebabkan anjloknya mata uang Iran, rial.
AS dan UE berharap, tekanan di sektor ekonomi bisa memaksa Iran memahami kekhawatiran dunia internasional atas program nuklir mereka. “Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan tekanan keuangan pada Iran selama diperlukan. Dan, kami akan terus mencari cara inovatif untuk membuat Iran menanggung harga dari keputusan yang mereka ambil,” lanjut Cohen.
(esn)