Rakyat Palestina berpesta rayakan status negara baru
Jum'at, 30 November 2012 - 13:33 WIB
Rakyat Palestina berpesta rayakan status negara baru
A
A
A
Sindonews.com - Ribuan warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza tumpah ruah di jalan menyambut putusan baru PBB. Ekspresi kegembiaraan terpancar saat PBB secara implisit telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara.
Seperti sebuah pesta besar terlihat di alun-alun kota Tepi Barat Ramallah, wilayah yang menjadi tempat pertempuran terakhir antara Palestina dan militer Israel.
Ribuan warga Pelestina larut dalam suka dan duka, mereka saling berpelukan, mengibarkan bendera Palestina, menari-menari sampai menyalakan kembang api.
"Perasaan yang sangat luar biasa memliki negara, ya meskipun itu hanya sebuah nama," ungkap Mohammed Srour, seorang warga Palestina.
"Ini adalah sebuah mimpi yang paling indah bagi setiap manusia, memiliki sebuah negara yang merdeka, terutama bagi warga Palestina yang telah lama merasakan penjajahan," imbuhnya.
Berdasarkan hasil pemungutan suara, draft yang diajukan oleh Presiden Mahmoud Abbas disetujui 138 anggota PBB. Sementara, sembilan dari 50 negara anggota PBB yang tersisa menyatakan menentang peningkatan status Palestina di PBB.
Seperti diketahui, 65 tahun yang lalu, tepatnya pada 29 November 1947, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi No. 181 yang menyerukan Palestina dipecah menjadi negara Arab dan Yahudi. Pemecahan ini memungkinkan untuk pembentukan negara Yahudi Israel pada tahun 1948.
Rakyat menentang rencana pemecahan tersebut, akhirnya puluhan tahun setelah itu warga Palestina hidup dalam ketegangan dan kekerasan.
Seperti sebuah pesta besar terlihat di alun-alun kota Tepi Barat Ramallah, wilayah yang menjadi tempat pertempuran terakhir antara Palestina dan militer Israel.
Ribuan warga Pelestina larut dalam suka dan duka, mereka saling berpelukan, mengibarkan bendera Palestina, menari-menari sampai menyalakan kembang api.
"Perasaan yang sangat luar biasa memliki negara, ya meskipun itu hanya sebuah nama," ungkap Mohammed Srour, seorang warga Palestina.
"Ini adalah sebuah mimpi yang paling indah bagi setiap manusia, memiliki sebuah negara yang merdeka, terutama bagi warga Palestina yang telah lama merasakan penjajahan," imbuhnya.
Berdasarkan hasil pemungutan suara, draft yang diajukan oleh Presiden Mahmoud Abbas disetujui 138 anggota PBB. Sementara, sembilan dari 50 negara anggota PBB yang tersisa menyatakan menentang peningkatan status Palestina di PBB.
Seperti diketahui, 65 tahun yang lalu, tepatnya pada 29 November 1947, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi No. 181 yang menyerukan Palestina dipecah menjadi negara Arab dan Yahudi. Pemecahan ini memungkinkan untuk pembentukan negara Yahudi Israel pada tahun 1948.
Rakyat menentang rencana pemecahan tersebut, akhirnya puluhan tahun setelah itu warga Palestina hidup dalam ketegangan dan kekerasan.
(esn)