Argentina tolak reformasi masa jabatan presiden
Sabtu, 10 November 2012 - 11:06 WIB
Argentina tolak reformasi masa jabatan presiden
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan ribu pengunjuk rasa tumpah ruah di jalanan Argentina pada Kamis (8/11) malam waktu setempat untuk meluapkan protes mereka atas rencana masa jabatan ketiga Presiden Cristina Fernandez Kirchner.
Pemimpin tengah-kiri itu memenangkan pemilu dengan mudah setahun lalu tapi rating penerimaannya terus menurun. Pemerintahannya telah melarang pembelian dolar Amerika Serikat (AS) dan membatasi impor tahun ini.Kebijakan itu telah memperburuk perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Tingginya angka kejahatan, inflasi yang mencapai sekitar 25% setahun, dan kemungkinan usaha sekutu pemerintah untuk mereformasi konstitusi yang membuat Fernandez bisa kembali memerintah untuk ketiga kalinya juga memicu protes, terutama dari kaum kelas menengah Argentina. “Ya untuk demokrasi,tidak untuk terpilih lagi,”teriak para demonstran. Mereka juga menyanyikan lagu kebangsaan dalam aksinya itu.
Para demonstran, yang menggelar demonstrasi lewat seruan di media sosial, menggelar aksi di Buenos Aires dan beberapa kota besar di Argentina, termasuk Rosario, Mendoza dan Bariloche. “Saya tak suka beberapa sikap pemerintah, terutama keotoriteran Cristina,”ujar Federico Chelli, 20, mahasiswa, kepada AFP.“Dia tidak bisa melakukan apa pun yang dia mau dengan dalih kalau dia mendapatkan 54% suara.
“Fernandez, presiden wanita terpilih pertama Argentina, pertama kali memenangkan pemilu pada 2007 dan terpilih lagi tahun lalu. Dia menggantikan suaminya, Nestor Kirchner, yang meninggal karena serangan jantung pada 2010. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Argentina, Fernandez dilarang mencalonkan diri lagi untuk masa jabatan ketiga berturut-turut pada pemilu 2015.
Tapi, media lokal menyebut, para sekutunya di Kongres kemungkinan berusaha mereformasi konstitusi negara untuk mengubahnya. Pemerintah belum mengonfirmasikan rencana seperti itu. Saat ini tidak ada pemimpin oposisi yang memberikan tantangan besar kepada Fernandez dan Partai Peronist yang berkuasa masih mendapatkan dukungan kuat dari pinggiran Buenos Aires yang padat dan didominasi kelas pekerja.
“Cristina memenangkan 54% suara dan kalau ada pemilu hari ini,dia akan menang lagi karena tidak ada kandidat oposisi,” uar Cesar Pacheco, 62, seorang pekerja di galangan kapal yang ikut demonstrasi di luar istana kepresidenan kepada Reuters. Menurut survei yang dilakukan Institute Management & Fit, lebih dari 80% rakyat menolak proposal reformasi konstitusi itu. Dalam polling itu terungkap, yang berada di daftar teratas keprihatinan adalah kurangnya keamanan (79,4%) diikuti inflasi (64%). “Presiden harus mendengarkan kami: Kami tak mau dia terpilih lagi,” ujar Nora Perez (60).
Pemimpin tengah-kiri itu memenangkan pemilu dengan mudah setahun lalu tapi rating penerimaannya terus menurun. Pemerintahannya telah melarang pembelian dolar Amerika Serikat (AS) dan membatasi impor tahun ini.Kebijakan itu telah memperburuk perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Tingginya angka kejahatan, inflasi yang mencapai sekitar 25% setahun, dan kemungkinan usaha sekutu pemerintah untuk mereformasi konstitusi yang membuat Fernandez bisa kembali memerintah untuk ketiga kalinya juga memicu protes, terutama dari kaum kelas menengah Argentina. “Ya untuk demokrasi,tidak untuk terpilih lagi,”teriak para demonstran. Mereka juga menyanyikan lagu kebangsaan dalam aksinya itu.
Para demonstran, yang menggelar demonstrasi lewat seruan di media sosial, menggelar aksi di Buenos Aires dan beberapa kota besar di Argentina, termasuk Rosario, Mendoza dan Bariloche. “Saya tak suka beberapa sikap pemerintah, terutama keotoriteran Cristina,”ujar Federico Chelli, 20, mahasiswa, kepada AFP.“Dia tidak bisa melakukan apa pun yang dia mau dengan dalih kalau dia mendapatkan 54% suara.
“Fernandez, presiden wanita terpilih pertama Argentina, pertama kali memenangkan pemilu pada 2007 dan terpilih lagi tahun lalu. Dia menggantikan suaminya, Nestor Kirchner, yang meninggal karena serangan jantung pada 2010. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Argentina, Fernandez dilarang mencalonkan diri lagi untuk masa jabatan ketiga berturut-turut pada pemilu 2015.
Tapi, media lokal menyebut, para sekutunya di Kongres kemungkinan berusaha mereformasi konstitusi negara untuk mengubahnya. Pemerintah belum mengonfirmasikan rencana seperti itu. Saat ini tidak ada pemimpin oposisi yang memberikan tantangan besar kepada Fernandez dan Partai Peronist yang berkuasa masih mendapatkan dukungan kuat dari pinggiran Buenos Aires yang padat dan didominasi kelas pekerja.
“Cristina memenangkan 54% suara dan kalau ada pemilu hari ini,dia akan menang lagi karena tidak ada kandidat oposisi,” uar Cesar Pacheco, 62, seorang pekerja di galangan kapal yang ikut demonstrasi di luar istana kepresidenan kepada Reuters. Menurut survei yang dilakukan Institute Management & Fit, lebih dari 80% rakyat menolak proposal reformasi konstitusi itu. Dalam polling itu terungkap, yang berada di daftar teratas keprihatinan adalah kurangnya keamanan (79,4%) diikuti inflasi (64%). “Presiden harus mendengarkan kami: Kami tak mau dia terpilih lagi,” ujar Nora Perez (60).
(esn)