4 Perwira militer Israel disidang in absentia
Selasa, 06 November 2012 - 13:12 WIB
4 Perwira militer Israel disidang in absentia
A
A
A
Sindonews.com - Pengadilan Istanbul, Turki mengelar persidangan in absentia (tanpa dihadiri terdakwa) atas empat komandan militer Isreal yang menyerang kapal Mavi Marmara milik Turki pada 2010 lalu. Serangan ini menewaskan sembilan orang di atas kapal itu.
Pad Mei lalu, Jaksa Turki sudah mendakwa empat pensiunan komandan militer Israel tersebut karena menghasut untuk melakukan pembunuhan dengan cara menyiksa korban.
Empat komandan itu adalah Gen Gabi Ashkenazi (mantan Kepala Angakatan Darat Israel), Laksamana Eliezer Marom (mantan Kepala Angkatan Laut Israel), Mayor Jenderal Amos Yadlin (mantan Kepala Intelejen Israel) , dan Brigjen Avishai Lev (mantan Kepala Angkatan Udara Israel).
Guna membuktikan kesalahan keempat komandan tersebut, pengadilan Istanbul siap menghadirkan 500 orang yang hadir di atas kapal saat pengrebekan berlangsung.
Jika persidangan memutuskan keempatnya bersalah dan dihukum, maka pengadilan bisa mengeluarkan surat perintah penangkapan mereka.
Keduataan Israel di Turki bereaksikeras dan mengajukan protes atas persidangan tersebut. "Persidangan tersebut merupakan tindakan politik sepihak yang digelar tanpa menunjukkan kredibilitas pengadilan," ungkap pernyataan Kedudataan Israel.
Sejauh ini pihak Israel bersikeras, kalau tindakan itu dilakukan untuk membela diri. “Penembakan dilakukan karena aktivis Turki menyerang mereka," ujar pernyataan Israel.
Kedutaan Israel menilai masalah ini harus ditangani melalui dialog antara pemerintah. Sebelumnya, pemerintah Israel telah melakukan penyelidikan sendiri dan menyesalkan jatuhnya korban dalam insiden tersebut
Berdasarkan hasil penyelidikan PBB, Israel mekukan tindakan keamanan yang sah. Tentara Israel tengah menghadapi situasi penting, saat mereka menaiki kapal tersebut. Mereka mendapatkan perlawanan kekerasan yang terorganisir.
Namun, PBB menilali keputusan Israel menaiki kapal dan mengunakan kekuatan yang berlebihan dalam menanggapi reaksi tersebut, sebagai sikap yang berlebihan dan tidak masuk akal.
Kapal Mavi Marmara mengangkut 600 sejumlah aktivis pendukung Palestina yang hendak mengirimkan bantuan bagi penduduk Jalur Gaza lewat jalur laut. Akibat penyerangan ini, hubungan diplomatik antara pemerintah Turki dan Israel retak.
Pad Mei lalu, Jaksa Turki sudah mendakwa empat pensiunan komandan militer Israel tersebut karena menghasut untuk melakukan pembunuhan dengan cara menyiksa korban.
Empat komandan itu adalah Gen Gabi Ashkenazi (mantan Kepala Angakatan Darat Israel), Laksamana Eliezer Marom (mantan Kepala Angkatan Laut Israel), Mayor Jenderal Amos Yadlin (mantan Kepala Intelejen Israel) , dan Brigjen Avishai Lev (mantan Kepala Angkatan Udara Israel).
Guna membuktikan kesalahan keempat komandan tersebut, pengadilan Istanbul siap menghadirkan 500 orang yang hadir di atas kapal saat pengrebekan berlangsung.
Jika persidangan memutuskan keempatnya bersalah dan dihukum, maka pengadilan bisa mengeluarkan surat perintah penangkapan mereka.
Keduataan Israel di Turki bereaksikeras dan mengajukan protes atas persidangan tersebut. "Persidangan tersebut merupakan tindakan politik sepihak yang digelar tanpa menunjukkan kredibilitas pengadilan," ungkap pernyataan Kedudataan Israel.
Sejauh ini pihak Israel bersikeras, kalau tindakan itu dilakukan untuk membela diri. “Penembakan dilakukan karena aktivis Turki menyerang mereka," ujar pernyataan Israel.
Kedutaan Israel menilai masalah ini harus ditangani melalui dialog antara pemerintah. Sebelumnya, pemerintah Israel telah melakukan penyelidikan sendiri dan menyesalkan jatuhnya korban dalam insiden tersebut
Berdasarkan hasil penyelidikan PBB, Israel mekukan tindakan keamanan yang sah. Tentara Israel tengah menghadapi situasi penting, saat mereka menaiki kapal tersebut. Mereka mendapatkan perlawanan kekerasan yang terorganisir.
Namun, PBB menilali keputusan Israel menaiki kapal dan mengunakan kekuatan yang berlebihan dalam menanggapi reaksi tersebut, sebagai sikap yang berlebihan dan tidak masuk akal.
Kapal Mavi Marmara mengangkut 600 sejumlah aktivis pendukung Palestina yang hendak mengirimkan bantuan bagi penduduk Jalur Gaza lewat jalur laut. Akibat penyerangan ini, hubungan diplomatik antara pemerintah Turki dan Israel retak.
(esn)