13 Tentara Filipina dituduh lakukan pembunuhan
Rabu, 31 Oktober 2012 - 18:45 WIB
13 Tentara Filipina dituduh lakukan pembunuhan
A
A
A
Sindonews.com – Seorang Letnan dan 12 Tamtama Angkatan Bersenjata Filipina diseret ke pengadilan militer terkait tuduhan pembunuhan yang dilakukan terhadap keluarga Kepala Suku di Selatan Mindanau. Jika terbukti, 13 tentara ini bisa dihukum penjara seumur hidup.
“Sebuah penyelidikan militer menemukan fakta, kalau para prajurit telah melakukan kelalaian ketika mereka terlibat dalam aksi tembak menembak dengan pemimpin suku. Para tentara ini tidak mencoba untuk menghindari jatuhnya korban sipil,” kata Juru Bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Kolonel Lyndon Paniza, seperti dikutip dari news.com.au, Rabu (31/10/2012).
Dalam insiden yang terjadi pada 18 Oktober itu, tentara menembak mati istri dan dua anak Daguil Capion, seorang Pemimpin suku yang menentang penambangan tembaga dan emas di daerah sukunya. Proyek senilai USD 5,9 miliar ini dijalankan oleh perusahaan tambang milik dua negara, Swiss dan Australia.
Para prajurit sendiri mengatakan, mereka dihujani tembakan saat mendekati sebuah gubuk milik keluarga Capion yang terletak di bagian terisolasi dari kota Kiblawan. Serangan ini memicu tembakan balasan dari para tentara.
Meski tentara mengaku mereka hanya membalas serangan, namun laporan berbeda disampaikan aktivis koalisi anti tambang, Alyansa Tigil Mina. Menurutnya, tentara telah melakukan pembantaian. “Tentara telah melakukan pembantaian. Mereka menembaki pondok, meski tak ada provokasi dari penduduk,” papar Mina.
Jika mulai beroperasi pada 2016, proyek pertambangan yang digerakan investasi asing akan menjadi sumber pendapatan terbesar negara itu. Namun, kalangan gereja, suku-suku, dan aktivis lingkungan hidup menentang keras proyek pertambangan ini.
“Sebuah penyelidikan militer menemukan fakta, kalau para prajurit telah melakukan kelalaian ketika mereka terlibat dalam aksi tembak menembak dengan pemimpin suku. Para tentara ini tidak mencoba untuk menghindari jatuhnya korban sipil,” kata Juru Bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Kolonel Lyndon Paniza, seperti dikutip dari news.com.au, Rabu (31/10/2012).
Dalam insiden yang terjadi pada 18 Oktober itu, tentara menembak mati istri dan dua anak Daguil Capion, seorang Pemimpin suku yang menentang penambangan tembaga dan emas di daerah sukunya. Proyek senilai USD 5,9 miliar ini dijalankan oleh perusahaan tambang milik dua negara, Swiss dan Australia.
Para prajurit sendiri mengatakan, mereka dihujani tembakan saat mendekati sebuah gubuk milik keluarga Capion yang terletak di bagian terisolasi dari kota Kiblawan. Serangan ini memicu tembakan balasan dari para tentara.
Meski tentara mengaku mereka hanya membalas serangan, namun laporan berbeda disampaikan aktivis koalisi anti tambang, Alyansa Tigil Mina. Menurutnya, tentara telah melakukan pembantaian. “Tentara telah melakukan pembantaian. Mereka menembaki pondok, meski tak ada provokasi dari penduduk,” papar Mina.
Jika mulai beroperasi pada 2016, proyek pertambangan yang digerakan investasi asing akan menjadi sumber pendapatan terbesar negara itu. Namun, kalangan gereja, suku-suku, dan aktivis lingkungan hidup menentang keras proyek pertambangan ini.
(esn)