Antisipasi badai Sandy, bursa saham New York tutup
Senin, 29 Oktober 2012 - 13:18 WIB
Antisipasi badai Sandy, bursa saham New York tutup
A
A
A
Sindonews.com – Badai Sandy yang diprediksi akan menerpa Pantai Timur Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari ke depan, benar-benar menebar ketakutan di kota-kota pesisir. New York yang diramalkan akan jadi kota pertama yang diterjang badai, mulai merasakan dampaknya.
Seperti dikutip dari thestar, pada Senin (29/10/2012) hingga Selasa (30/10/2012), Bursa Saham New York akan tutup. "Kondisi berbahaya sebagai akibat dari Badai Sandy akan membuat sangat sulit untuk menjamin keamanan rakyat kita dan masyarakat. Faktor keamanan harus menjadi prioritas pertama kami," sebut pernyataan dari kata New York Stock Exchange.
Pada Senin pagi, badai Sandy berada 760 km Selatan New York. Badai ini bergerak dari laut di Atlantik, sejajar dengan pantai Timur AS dengan kecepatan 22 km/jam.
Walikota New York, Michael Bloomberg, memerintahkan evakuasi 375 ribu orang yang tinggal di dataran rendah kota itu. Orang-orang ini tinggal di wilayah kelas atas Manhattan.
"Saya sangat gugup. Ini adalah badai terbesar yang pernah melanda kota," kata Lizzie Elston, seorang mahasiswa yang tinggal di New York. “Saya khawatir toko-toko akan ditutup sebelum kami membeli persiapan pangan,” katanya.
Seperti dikutip dari thestar, pada Senin (29/10/2012) hingga Selasa (30/10/2012), Bursa Saham New York akan tutup. "Kondisi berbahaya sebagai akibat dari Badai Sandy akan membuat sangat sulit untuk menjamin keamanan rakyat kita dan masyarakat. Faktor keamanan harus menjadi prioritas pertama kami," sebut pernyataan dari kata New York Stock Exchange.
Pada Senin pagi, badai Sandy berada 760 km Selatan New York. Badai ini bergerak dari laut di Atlantik, sejajar dengan pantai Timur AS dengan kecepatan 22 km/jam.
Walikota New York, Michael Bloomberg, memerintahkan evakuasi 375 ribu orang yang tinggal di dataran rendah kota itu. Orang-orang ini tinggal di wilayah kelas atas Manhattan.
"Saya sangat gugup. Ini adalah badai terbesar yang pernah melanda kota," kata Lizzie Elston, seorang mahasiswa yang tinggal di New York. “Saya khawatir toko-toko akan ditutup sebelum kami membeli persiapan pangan,” katanya.
(esn)