Enam hari kerusuhan, 112 tewas di Myanmar
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 20:04 WIB
Enam hari kerusuhan, 112 tewas di Myanmar
A
A
A
Sindonews.com – Jumlah korban tewas selama enam hari kerusuhan di negara bagian Rakhine, sebelah Barat Myanmar telah mencapai sedikitnya 112 jiwa. Seperti dikutip dari thestar, pada Jumat (26/10/2012), pasukan keamanan Myanmar terpaksa menggunakan kekerasan untuk menghentikan kekerasan sektarian terburuk antara umat Budha dan kaum Muslim di tahun ini.
Beberapa umat Budha mengaku, pasukan keamanan Myanmar melepaskan tembakan ke arah mereka untuk menghentikan aksi pertikaian dengan kaum Muslim. Penembakan yang dilakukan militer Myanmar ke umat Budha, mulai melunturkan anggapan kalau Pemerintah Myanmar terlalu berpihak ke umat Budha.
Sebelumnya, dunia internasional menuding Pemerintah Myanmar tak pernah melindungi umat Muslim Rohingya. Namun kini, semangat reformasi demokrasi yang diusung Presiden Myanmar, Thein Sein mulai mengikis tudingan itu.
“Militer melepaskan tembakan untuk mencegah penduduk sebuah desa di Rakhine yang menumpangi dua kapal, menyerbu sebuah komunitas Muslim Rohingya,” kata Aung Kyaw Min, seorang warga Rakhine dari desa Taung Bwe.
PBB memperingatkan, bahwa demokrasi di Myanmar yang baru berjalan ini bisa rusak akibat bentrokan. Aksi kekerasan pada pekan ini, hanya berselang lima bulan dari kerusuhan sebelumnya yang telah menewaskan lebih dari 80 orang.
Beberapa umat Budha mengaku, pasukan keamanan Myanmar melepaskan tembakan ke arah mereka untuk menghentikan aksi pertikaian dengan kaum Muslim. Penembakan yang dilakukan militer Myanmar ke umat Budha, mulai melunturkan anggapan kalau Pemerintah Myanmar terlalu berpihak ke umat Budha.
Sebelumnya, dunia internasional menuding Pemerintah Myanmar tak pernah melindungi umat Muslim Rohingya. Namun kini, semangat reformasi demokrasi yang diusung Presiden Myanmar, Thein Sein mulai mengikis tudingan itu.
“Militer melepaskan tembakan untuk mencegah penduduk sebuah desa di Rakhine yang menumpangi dua kapal, menyerbu sebuah komunitas Muslim Rohingya,” kata Aung Kyaw Min, seorang warga Rakhine dari desa Taung Bwe.
PBB memperingatkan, bahwa demokrasi di Myanmar yang baru berjalan ini bisa rusak akibat bentrokan. Aksi kekerasan pada pekan ini, hanya berselang lima bulan dari kerusuhan sebelumnya yang telah menewaskan lebih dari 80 orang.
(esn)