Kerusuhan di Myanmar picu eksodus kaum Muslim
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 09:01 WIB
Kerusuhan di Myanmar picu eksodus kaum Muslim
A
A
A
Sindonews.com - Sebuah gelombang baru kekerasan sektarian di Barat Myanmar dalam beberapa hari terakhir ini telah menyebabkan lima orang tewas dan puluhan luka-luka. Aksi kekerasan sektarian ini telah memicu eksodus umat Islam ke kamp-kamp darurat.
"Setidaknya lima orang tewas dan sekitar 80 orang terluka dalam aksi kekerasan selama empat hari sejak 21 Oktober di empat kota," kata Juru Bicara Negara Bagian Rakhine, Myo Thant, seperti dikutip dari Iol.co.za, Kamis (25/10/2012).
Di kota lain juga terjadi aksi pembakaran rumah-rumah. “Saat ini, para prajurit telah diturunkan untuk membantu memulihkan keamanan," tambahnya. Ketegangan tetap pada titik didih di seluruh Negara Bagian Rakhine, meski telah diberlakukan jam malam.
Sementara itu, ratusan kaum Muslim Rohingya telah tiba di Sittwe, Ibu Kota Negara Bagian Rakhine dengan menggunakan perahu. Mereka lari ke Sittwe untuk mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi.
Badan Pengungsi PBB memperkirakan, lebih dari 1.000 orang pengungsi telah tiba di Sittwe dalam beberapa hari terakhir. "Masih banyak pengungsi lainnya di belakangn mereka," kata Juru Bicara Badan Pengungsi PBB, Vivian Tan di Bangkok. "Para pengungsi ini datang ke Sittwe yang saat ini sudah penuh sesak,” lanjutnya.
Pertumpahan darah ini telah menjauhkan harapan akan terjadinya reformasi, yang secara luas telah digembar-gemborkan oleh Presiden Myanmar, Thein Sein. Pemerintah Myanmar memang mencoba memperbaiki citra, dengan membebaskan ratusan tahanan politik dan memperbolehkan Pemimpin Oposisi Aung San Suu Kyi masuk ke parlemen.
"Setidaknya lima orang tewas dan sekitar 80 orang terluka dalam aksi kekerasan selama empat hari sejak 21 Oktober di empat kota," kata Juru Bicara Negara Bagian Rakhine, Myo Thant, seperti dikutip dari Iol.co.za, Kamis (25/10/2012).
Di kota lain juga terjadi aksi pembakaran rumah-rumah. “Saat ini, para prajurit telah diturunkan untuk membantu memulihkan keamanan," tambahnya. Ketegangan tetap pada titik didih di seluruh Negara Bagian Rakhine, meski telah diberlakukan jam malam.
Sementara itu, ratusan kaum Muslim Rohingya telah tiba di Sittwe, Ibu Kota Negara Bagian Rakhine dengan menggunakan perahu. Mereka lari ke Sittwe untuk mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi.
Badan Pengungsi PBB memperkirakan, lebih dari 1.000 orang pengungsi telah tiba di Sittwe dalam beberapa hari terakhir. "Masih banyak pengungsi lainnya di belakangn mereka," kata Juru Bicara Badan Pengungsi PBB, Vivian Tan di Bangkok. "Para pengungsi ini datang ke Sittwe yang saat ini sudah penuh sesak,” lanjutnya.
Pertumpahan darah ini telah menjauhkan harapan akan terjadinya reformasi, yang secara luas telah digembar-gemborkan oleh Presiden Myanmar, Thein Sein. Pemerintah Myanmar memang mencoba memperbaiki citra, dengan membebaskan ratusan tahanan politik dan memperbolehkan Pemimpin Oposisi Aung San Suu Kyi masuk ke parlemen.
(esn)