Bentrok umat Budha & Muslim di Myanmar, 3 tewas
Selasa, 23 Oktober 2012 - 18:23 WIB
Bentrok umat Budha & Muslim di Myanmar, 3 tewas
A
A
A
Sindonews.com - Setidaknya tiga orang tewas akibat bentrokan antara kaum Muslim Rohingya dan umat Buddha di Myanmar. Seperti dikutip dari bangkokpost, Selasa (23/10/2012), bentrokan terjadi di sebelah Barat negara bagian Rakhine.
“Kami mendapat informasi bahwa seorang etnis Rakhine dan dua wanita Muslim tewas di desa Pandeinkone selama bentrokan yang terjadi Senin (22/10/2012). Sulit untuk mengendalikan situasi,” ungkap Hla Thein , Kepala Pengadilan Negara bagian Rakhine.
Menurut Thien, tidak ada laporan yang mengungkapkan jumlah korban luka-luka. Selain korban tewas, ratusan rumah di dua desa yang bertetangga juga dilaporkan dibakar. “Konflik antara dua komunitas ini menyebabkan lebih dari 50 rumah di sebuah desa yang terletak di kota Mrauk U, terbakar,” ujar seorang polisi yang tak disebutkan namanya.
Meski Kepolisian sudah memberlakukan jam malam di daerah bentrokan, namun hal itu tak bisa menghentikan aksi kekerasan. Pertumpahan darah ini menggangu upaya reformasi di Myanmar, yang digembar-gemborkan oleh Presiden Myanmar, Thein Sein.
Pemerintah Myanmar telah menolak tuduhan pelanggaran yang dilakukan pasukan Myanmar di Rakhine. Tepisan ini dikeluarkan pemerintah Myanmar, setelah PBB menyampaikan kekhawatiran soal tindakan keras Pemerintah Myanmar terhadap kaum muslim Rohingya.
Muslim Rohingya telah lama dianggap oleh PBB sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia. Muslim Rohingya berbicara dengan dialek mirip suku Bengali, yang tinggal di Bangladesh. Karenanya, muslim Rohingya dipandang sebagai imigran ilegal oleh pemerintah Myanmar.
Muslim Rohingya menghadapi pembatasan ketat dan minimnya akses terhadap lapangan pekerjaan, pendidikan, dan pelayanan publik. Banyak dari Muslim Rohingya yang berusaha melarikan diri ke luar negeri dengan menggunakan perahu.
“Kami mendapat informasi bahwa seorang etnis Rakhine dan dua wanita Muslim tewas di desa Pandeinkone selama bentrokan yang terjadi Senin (22/10/2012). Sulit untuk mengendalikan situasi,” ungkap Hla Thein , Kepala Pengadilan Negara bagian Rakhine.
Menurut Thien, tidak ada laporan yang mengungkapkan jumlah korban luka-luka. Selain korban tewas, ratusan rumah di dua desa yang bertetangga juga dilaporkan dibakar. “Konflik antara dua komunitas ini menyebabkan lebih dari 50 rumah di sebuah desa yang terletak di kota Mrauk U, terbakar,” ujar seorang polisi yang tak disebutkan namanya.
Meski Kepolisian sudah memberlakukan jam malam di daerah bentrokan, namun hal itu tak bisa menghentikan aksi kekerasan. Pertumpahan darah ini menggangu upaya reformasi di Myanmar, yang digembar-gemborkan oleh Presiden Myanmar, Thein Sein.
Pemerintah Myanmar telah menolak tuduhan pelanggaran yang dilakukan pasukan Myanmar di Rakhine. Tepisan ini dikeluarkan pemerintah Myanmar, setelah PBB menyampaikan kekhawatiran soal tindakan keras Pemerintah Myanmar terhadap kaum muslim Rohingya.
Muslim Rohingya telah lama dianggap oleh PBB sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia. Muslim Rohingya berbicara dengan dialek mirip suku Bengali, yang tinggal di Bangladesh. Karenanya, muslim Rohingya dipandang sebagai imigran ilegal oleh pemerintah Myanmar.
Muslim Rohingya menghadapi pembatasan ketat dan minimnya akses terhadap lapangan pekerjaan, pendidikan, dan pelayanan publik. Banyak dari Muslim Rohingya yang berusaha melarikan diri ke luar negeri dengan menggunakan perahu.
(esn)