Pemogokan pekerja medis di Peru kian parah
Minggu, 21 Oktober 2012 - 14:48 WIB
Pemogokan pekerja medis di Peru kian parah
A
A
A
Sindonews.com – Aksi pemogokan yang dilakukan para pekerja medis di Peru kian parah. Seperti diaporkan BBC.co.uk, Sabtu (20/10/2012), saat ini para Kepala Rumah Sakit di Peru juga ikut dalam aksi itu.
Para Kepala Rumah Sakit di Peru ramai-ramai mengajukan pengunduran diri. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan pada aksi mogok yang dilakukan pekerja medis. Sebelumnya, sejak satu bulan terakhir, para dokter dan perawat di Peru sudah lebih dulu melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes terhadap minimnya gaji mereka.
“Lebih dari 300 Kepala Rumah Sakit di Ibu Kota Peru, Lima, mengundurkan diri. Itu baru yang di Lima, belum lagi yang berasal dari kota lain,” ujar Kepala Serikat Pekerja Medis, Peru, Cesar Palomino.
Aksi mogok kerja yang dilakukan 11 ribu dokter di Peru ini, telah menyebabkan terhentinya layanan medis di rumah sakit dan klinik di seluruh Peru. Para dokter menyatakan, meski pertumbuhan ekonomi Peru cukup bagus, namun dalam beberapa tahun terakhir, para dokter tak mengalami kenaikan gaji.
Serikat Pekerja Medis menyalahkan kebijakan konservatif Presiden Peru, Ollanta Humala, di bidang ekonomi. Kebijakan ini diaplikasikan oleh Menteri Keuangan Peru, Luis Miguel Castilla, dengan membatalkan kenaikan upah pekerja medis.
“Pemogokan telah mencapai titik balik dan satu-satunya pilihan pemerintah adalah untuk menyerah pada tuntutan para dokter. Kami pikir akar penyebab dari situasi buruk ini adalah sikap menteri keuangan," kata Palomino.
Pemerintah Peru sendiri sudah menegaskan, kalau kenaikan gaji akan memperhitungkan kinerja para pekerja medis itu. "Dialog selalu terbuka, tawaran telah dibuat, tapi kami tidak akan merespon pemerasan. Kami menyerukan kepada dokter untuk kembali bekerja. Sebab, pihak yang paling menderita atas aksi pemogokan ini adalah para pasien," kata Castilla.
Para Kepala Rumah Sakit di Peru ramai-ramai mengajukan pengunduran diri. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan pada aksi mogok yang dilakukan pekerja medis. Sebelumnya, sejak satu bulan terakhir, para dokter dan perawat di Peru sudah lebih dulu melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes terhadap minimnya gaji mereka.
“Lebih dari 300 Kepala Rumah Sakit di Ibu Kota Peru, Lima, mengundurkan diri. Itu baru yang di Lima, belum lagi yang berasal dari kota lain,” ujar Kepala Serikat Pekerja Medis, Peru, Cesar Palomino.
Aksi mogok kerja yang dilakukan 11 ribu dokter di Peru ini, telah menyebabkan terhentinya layanan medis di rumah sakit dan klinik di seluruh Peru. Para dokter menyatakan, meski pertumbuhan ekonomi Peru cukup bagus, namun dalam beberapa tahun terakhir, para dokter tak mengalami kenaikan gaji.
Serikat Pekerja Medis menyalahkan kebijakan konservatif Presiden Peru, Ollanta Humala, di bidang ekonomi. Kebijakan ini diaplikasikan oleh Menteri Keuangan Peru, Luis Miguel Castilla, dengan membatalkan kenaikan upah pekerja medis.
“Pemogokan telah mencapai titik balik dan satu-satunya pilihan pemerintah adalah untuk menyerah pada tuntutan para dokter. Kami pikir akar penyebab dari situasi buruk ini adalah sikap menteri keuangan," kata Palomino.
Pemerintah Peru sendiri sudah menegaskan, kalau kenaikan gaji akan memperhitungkan kinerja para pekerja medis itu. "Dialog selalu terbuka, tawaran telah dibuat, tapi kami tidak akan merespon pemerasan. Kami menyerukan kepada dokter untuk kembali bekerja. Sebab, pihak yang paling menderita atas aksi pemogokan ini adalah para pasien," kata Castilla.
(esn)