Meningkat, korban perdagangan manusia di Inggris
Kamis, 18 Oktober 2012 - 19:46 WIB
Meningkat, korban perdagangan manusia di Inggris
A
A
A
Sindonews.com – Meski tak ada perhitungan resmi soal jumlah orang yang menjadi korban perdagangan manusia, namun Pemerintah Inggris menduga jumlah korban perdagangan manusia di negara itu meningkat setiap tahunnya.
Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Kamis (18/10/2012), pada 2011 tercatat 946 korban perdagangan manusia. Angka ini meningkat dibanding tahun 2010, di mana hanya ada 710 korban. Angka ini didapat dari laporan sebuah satuan tugas antar Kementerian di Inggris yang mengurusi kejahatan perdagangan manusia.
Laporan itu merinci, dari 946 korban di tahun 2011, 712 di antaranya adalah orang dewasa dan sisanya anak-anak. Sedangkan pada 2010, dari 710 korban, 524 adalah orang dewasa dan 186 anak-anak. Bisa jadi, jumlah korban lebih tinggi dari angka yang didapat ini. Sebab, banyak korban yang takut melapor ke pihak berwenang, karena tak ingin dikembalikan ke negara asal mereka.
“Kelompok-kelompok kejahatan di China, Vietnam, Nigeria, dan Eropa Timur menimbulkan ancaman terbesar bagi Inggris pada masalah perdagangan manusia,” sebut laporan itu. Menurut Pemerintah Inggris, kunci untuk menumpas kejahatan ini adalah kordinasi yang lebih baik antara departemen terkait dengan otoritas di luar negeri.
Menurut pihak berwenang, banyak di antara korban itu tak tahu kalau mereka sudah menjadi korban sindikat perdagangan manusia. Banyak dari korban yang dijanjikan pekerjaan di industri hotel, industri hiburan, atau sebagai penerjemah. Tapi, ketika mereka tiba di tempat tujuan, hal yang dijanjikan tak pernah didapat.
"Sebagian besar dari mereka berpikir, bahwa mereka akan datang ke kehidupan yang lebih baik di Inggris," kata Inspektur Kevin Hyland, Detektif dari Kepolisian London yang kerap menangani kejahatan perdagangan manusia. Menurutnya, Inggris acap kali menjadi tujuan utama para pencari kerja.
“Sebagian dari mereka melakukan perjalanan darat ke Inggris dengan menggunakan truk atau kontainer secara ilegal. Namun, sebagian masuk ke Inggris secara sah dan diampingi oleh para anggota sindikat perdagangan manusia,” lanjut Hyland.
Setiap tahunnya, Kepolisian London menangani lebih dari 100 kasus perdagangan manusia. Beberapa kasus melibatkan lebih dari 400 korban. Tapi, mayoritas kasus hanya melibatkan 10 sampai 15 orang. Pihak berwenang memperkirakan, ada sekitar 92 sindikat yang terlibat dalam perdagangan manusia di Inggris.
Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Kamis (18/10/2012), pada 2011 tercatat 946 korban perdagangan manusia. Angka ini meningkat dibanding tahun 2010, di mana hanya ada 710 korban. Angka ini didapat dari laporan sebuah satuan tugas antar Kementerian di Inggris yang mengurusi kejahatan perdagangan manusia.
Laporan itu merinci, dari 946 korban di tahun 2011, 712 di antaranya adalah orang dewasa dan sisanya anak-anak. Sedangkan pada 2010, dari 710 korban, 524 adalah orang dewasa dan 186 anak-anak. Bisa jadi, jumlah korban lebih tinggi dari angka yang didapat ini. Sebab, banyak korban yang takut melapor ke pihak berwenang, karena tak ingin dikembalikan ke negara asal mereka.
“Kelompok-kelompok kejahatan di China, Vietnam, Nigeria, dan Eropa Timur menimbulkan ancaman terbesar bagi Inggris pada masalah perdagangan manusia,” sebut laporan itu. Menurut Pemerintah Inggris, kunci untuk menumpas kejahatan ini adalah kordinasi yang lebih baik antara departemen terkait dengan otoritas di luar negeri.
Menurut pihak berwenang, banyak di antara korban itu tak tahu kalau mereka sudah menjadi korban sindikat perdagangan manusia. Banyak dari korban yang dijanjikan pekerjaan di industri hotel, industri hiburan, atau sebagai penerjemah. Tapi, ketika mereka tiba di tempat tujuan, hal yang dijanjikan tak pernah didapat.
"Sebagian besar dari mereka berpikir, bahwa mereka akan datang ke kehidupan yang lebih baik di Inggris," kata Inspektur Kevin Hyland, Detektif dari Kepolisian London yang kerap menangani kejahatan perdagangan manusia. Menurutnya, Inggris acap kali menjadi tujuan utama para pencari kerja.
“Sebagian dari mereka melakukan perjalanan darat ke Inggris dengan menggunakan truk atau kontainer secara ilegal. Namun, sebagian masuk ke Inggris secara sah dan diampingi oleh para anggota sindikat perdagangan manusia,” lanjut Hyland.
Setiap tahunnya, Kepolisian London menangani lebih dari 100 kasus perdagangan manusia. Beberapa kasus melibatkan lebih dari 400 korban. Tapi, mayoritas kasus hanya melibatkan 10 sampai 15 orang. Pihak berwenang memperkirakan, ada sekitar 92 sindikat yang terlibat dalam perdagangan manusia di Inggris.
(esn)