Civil society penggerak demokrasi
Kamis, 18 Oktober 2012 - 10:18 WIB
Civil society penggerak demokrasi
A
A
A
Sindonews.com - Peran civil society dalam sebuah perkembangan demokrasi negara sangatlah penting saat ini. Mereka memiliki kekuatan untuk menekan pemerintah dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi.
Itulah yang diungkapkan Amy B Cohen dari George Washington University saat berkunjung ke redaksi SINDO beberapa waktu lalu.Menurut Cohen, peran civil society ini akan mengarahkan Indonesia menjadi negara demokrasi yang lebih kuat.
“Demokrasi tidak hanya diperuntukkan bagi otoritas berwenang, bukan lahir hanya untuk pemerintah, melainkan lebihdariitu, demokrasi sesuatu yang universal untuk semua masyarakat sosial ataupun komunitas,” ungkap Cohen.
Meski baru sekali mengunjungi Indonesia, Cohen menegaskan sudah lama tertarik dengan perkembangan civil society di Tanah Air. “Saya pikir civil society dapat membuat perubahan di pemerintah,” tandas Cohen. Sebagai negara demokrasi yang usianya masih muda, Cohen menuturkan,usia muda ini adalah peluang baik bagi Indonesia untuk bisa mengembangkan peluang-peluang yang ada.
“Saya memang tidak mengerti mengapa dan bagaimana, namun Indonesia memiliki demokrasi yang baik setelah melewati masa revolusi,” papar ibu satu orang putri ini.“Indonesia memiliki demokrasi yang hebat,serta peluang ekonomi yang dapat berkembang dan juga budaya.” Peran civil society sebagai penggerak demokrasi akan semakin kuat dengan peran pemuda di dalamnya karena,menurut Cohen, pemuda adalah salah satu faktor penting dalam perkembangan demokrasi.
Dia mencontohkan bagaimana Martin Luther King yang baru berusia 23 tahun mampu menggebrak hak sipil warga Amerika Serikat (AS) pada tahun 1950-an. “Indonesia mungkin lebih bisa mengembangkan hal itu, mengembangkan kemampuan mereka, dan dapat membuat perubahan,” imbuh Cohen. Dia juga menandaskan, demokrasi tak hanya dipelajari dari sekolah, tapi juga dari lingkungan dan sekitar.
Selama di Jakarta, Cohen juga mengunjungi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menggelar diskusi. Dia mengaku sangat senang berada di Jakarta,tapi menyatakan keheranannya saat melihat beberapa fenomena yang dianggapnya unik.“Saya heran sekali melihat ada sebuah keluarga naik sepeda motor bersama-sama.
Ayahnya di depan pakai helm, ibunya duduk di belakang pakai helm juga, tapi dua anaknya yang duduk di antara mereka, tak pakai helm,”ungkapnya. Setelah Jakarta, Cohen akan dijadwalkan untuk menuju Surabaya dan Banten guna melakukan diskusi dengan mengunjungi beberapa universitas dalam program US Speaker and Specialist Program dengan tema “Civil Society in the US”dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS).
Itulah yang diungkapkan Amy B Cohen dari George Washington University saat berkunjung ke redaksi SINDO beberapa waktu lalu.Menurut Cohen, peran civil society ini akan mengarahkan Indonesia menjadi negara demokrasi yang lebih kuat.
“Demokrasi tidak hanya diperuntukkan bagi otoritas berwenang, bukan lahir hanya untuk pemerintah, melainkan lebihdariitu, demokrasi sesuatu yang universal untuk semua masyarakat sosial ataupun komunitas,” ungkap Cohen.
Meski baru sekali mengunjungi Indonesia, Cohen menegaskan sudah lama tertarik dengan perkembangan civil society di Tanah Air. “Saya pikir civil society dapat membuat perubahan di pemerintah,” tandas Cohen. Sebagai negara demokrasi yang usianya masih muda, Cohen menuturkan,usia muda ini adalah peluang baik bagi Indonesia untuk bisa mengembangkan peluang-peluang yang ada.
“Saya memang tidak mengerti mengapa dan bagaimana, namun Indonesia memiliki demokrasi yang baik setelah melewati masa revolusi,” papar ibu satu orang putri ini.“Indonesia memiliki demokrasi yang hebat,serta peluang ekonomi yang dapat berkembang dan juga budaya.” Peran civil society sebagai penggerak demokrasi akan semakin kuat dengan peran pemuda di dalamnya karena,menurut Cohen, pemuda adalah salah satu faktor penting dalam perkembangan demokrasi.
Dia mencontohkan bagaimana Martin Luther King yang baru berusia 23 tahun mampu menggebrak hak sipil warga Amerika Serikat (AS) pada tahun 1950-an. “Indonesia mungkin lebih bisa mengembangkan hal itu, mengembangkan kemampuan mereka, dan dapat membuat perubahan,” imbuh Cohen. Dia juga menandaskan, demokrasi tak hanya dipelajari dari sekolah, tapi juga dari lingkungan dan sekitar.
Selama di Jakarta, Cohen juga mengunjungi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menggelar diskusi. Dia mengaku sangat senang berada di Jakarta,tapi menyatakan keheranannya saat melihat beberapa fenomena yang dianggapnya unik.“Saya heran sekali melihat ada sebuah keluarga naik sepeda motor bersama-sama.
Ayahnya di depan pakai helm, ibunya duduk di belakang pakai helm juga, tapi dua anaknya yang duduk di antara mereka, tak pakai helm,”ungkapnya. Setelah Jakarta, Cohen akan dijadwalkan untuk menuju Surabaya dan Banten guna melakukan diskusi dengan mengunjungi beberapa universitas dalam program US Speaker and Specialist Program dengan tema “Civil Society in the US”dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS).
(aww)